Yang Terpilih Bukan Saya… Lalu Harus Bagaimana?

Siapa yang tidak ingin jadi yang terpilih? Apalagi jika itu suatu hal yang telah diimpikan dan diinginkan sejak lama. Ketika semua usaha telah dikeluarkan, segala doa telah dicurahkan, dan seluruh kekuatan telah dimaksimalkan, namun nyatanya hasil yang dirasa tak sebanding dengan apa yang telah dilakukan. Padahal angan – angan akan hal tersebut sudah tertancap did alam hati dan pikiran, susah rasa untuk menghapus dan melupakan.

Rasa putus asa itu terkadang muncul karena merasa tidak terpilih. Curahan rasa putus asa itu dapat memberikan beberapa dampak negatif. Tanpa sengaja tiba – tiba muncul dalam pikiran,

“Mungkin kemampuanku hanya sekecil ini”

“Mungkin aku memang tidak bisa apa – apa”

“Mungkin aku ditakdirkan untuk selalu gagal”

“Mungkin… Mungkin… Mungkin…”

Pikiran – pikiran yang seperti itu yang selalu mengganggu, membuat diri sendiri menjadi kecil, tidak bermakna, dan tidak berarti apa – apa. Celakanya jika telah berpikiran orang lain yang telah terpilih melakukan hal – hal yang tidak semestinya. Muncul rasa iri dan berpikiran yang tidak – tidak kepada mereka, sehingga menimbulkan rasa ingin untuk berbuat kecurangan kepada mereka dan pada akhirnya akan mencelakai diri sendiri.

            Tetapi tidak semua orang berpikiran demikian. Tidak sedikit pula orang juga bisa berpikiran positif terhadap hal-hal yang dirasakan, meskipun usaha, kekuatan, dan doa telah dimaksimalkan, tetapi hasilnya pun dirasa masih belum sepadan atau belum sesuai dengan apa yang diinginkan. Hal – hal positif yang dapat dilakukan antara lain mengevaluasi diri, menyempurnakan usaha dan memaksimalkan kekuatan, serta mempertahankan ibadah dan doa.

            Mengevaluasi diri mungkin hal pertama yang harus dilakukan. Mencoba memandang ke belakang, menganalisis kembali hal apa yang sudah dilakukan dan hal apa saja yang belum dilakukan. Meneliti kembali hal-hal yang perlu ditingkatkan, jika perlu harus diganti atau diperbaiki metode dan strateginya. Dalam pemilihan metode dan strategi juga perlu perhatian yang sangat mendalam. Perlu adanya pertimbangan – pertimbangan mendalam untuk menentukan metode dan strategi yang sesuai. Metode dan strategi yang tepat sangat berpengaruh terhadap hasil yang akan dicapai. Untuk menyempurnakan sebuah metode dan strategi, diperlukan juga pemikiran dan ide dari beberapa orang yang sudah berpengalaman dibidangnya. Selain itu, diperlukan juga beberapa referensi atau rujukan dari beberapa buku yang dirasa memang sesuai.

            Ketika semua usaha dan kekuatan sudah dikerahkan tetapi hasilnya masih belum dicapai, hal yang mungkin bisa kita lakukan adalah menyempurnakan usaha tersebut dan memaksimalkan kekuatan yang dimiliki. Setelah evaluasi diri telah dilakukan, akan ditemukan beberapa hal yang perlu ditingkatkan lagi. Perlu adanya usaha dan kekuatan ekstra untuk meningkatkan hal tersebut. Mungkin usaha dan kekuatan yang sebelumnya sudah lakukan telah dirasa maksimal, tetapi harus diteliti lagi hal – hal kecil yang belum terlaksana tetapi sangat mempengaruhi hasil yang ingin dicapai. Dalam menyempurnakan suatu usaha juga perlu memperhatikan tujuan awalnya, jangan sampai keluar dari batasan tersebut. Perlu diperhatikan pula batasan kemampuan dan kekuatan yang dimiliki, jangan terlalu diforsir, sehingga bisa menurunkan stamina dan berakibat usaha yang dilakukan menjadi terhambat. Yang tidak kalah penting juga adalah menghilangkan pikiran negatif terhadap diri kita dan usaha yang telah dilakukan, serta jangan pernah takut untuk gagal dan selalu mencoba.

            Saat semua usaha telah dilaksanakan, hal terakhir yang bisa dilakukan adalah berdoa. Berharap kepada Tuhan Yang Maha Esa agar semua yang telah dilakukan mendapatkan hasil yang diinginkan. Ibadah dan doa secara kontinu akan membuat diri sendiri menjadi lebih dekat dengan Tuhan dan juga dapat menghilangkan rasa tinggi hati, cepat merasa puas, dan jauh dari pikiran negatif, melainkan dapat menambah rasa bersyukur dan selalu berpikir positif. Jangan melakukan ibadah dan berdoa saat ada butuhnya saja, karena hal itu akan menimbulkan pikiran negatif atas kehendak Tuhan ketika apa yang kita inginkan belum tercapai.

By  : Winda Ratna Siswaningtyas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *