“Aku merasa cemas dan gelisah, terkadang aku juga cemburu atau iri dengan seseorang. Bahkan aku pernah merasa marah dan benci dengan diri sendiri dan orang lain. Apa aku gpp ya?”. Nah, pernahkah kalian merasakan hal-hal tersebut? Atau “aku merasa pusing, mual, kepalaku serasa dibentur-benturkan tembok? Padahal ketika aku berangkat dari rumah semua baik-baik saja. Tapi ketika sampai di sekolah semua perasaan itu muncul dan membuatku sakit. Terkadang lebih parahnya lagi aku sering BAB “sakit perut” dan bahkan sering pingsan”. Apakah aku baik-baik saja ya?.

Pernahkah kalian mengalami hal tersebut? Nah, apa yang kalian alami itu biasa disebut dengan “mental sickness”, lantas apa itu mental sickness?. Mental Sickness adalah gangguan kesehatan mental yang sebenarnya individu tidak merasakan akan adanya gangguan tersebut, namun biasanya akan berdampak pada perasaan, emosi bahkan keperilaku seseorang. Mental yang sehat dapat terlihat dari beberapa ciri, seperti individu yang memiliki sikap batin yang positif, dapat mengintegrasikan atau menampakkan fungsi-fungsi psikis yang positif seperti empati. Memiliki sikap mandiri, realistis, dapat menginstropeksi diri serta dapat beradaptasi dengan lingkungan yang ada (P4TK BK:23, Kaidah-Kaidah Kesehatan Mental).

Menurut WHO pada tahun 1959, memberikan batasan mental yang sehat sebagai berikut :

  1. Dapat menyesuaikan diri secara positif pada kenyataan, meskipun kenyataan itu buruk baginya
  2. Memperoleh kepuasan dari hasil jerih payah usahannya
  3. Lebih puas memberi daripada menerima
  4. Secara umum lebih bebas dari rasa tegang dan cemas
  5. Suka berhubungan dengan orang lain, suka tolong-menolong dan saling memuaskan
  6. Menerima kekecewaan untuk digunakan sebagai pelajaran di kemudian hari
  7. Meluapkan rasa kompetitif dengan penyelesaian yang kreatif dan konstruktif
  8. Mempunyai rasa kasih yang besar
  9. Sehat dalam hal spritual.

Ada beberapa pandangan yang salah mengenain kesehatan mental, seperti gangguan mental adalah heriditer/diturunkan, kesehatan mental dipandang sama dengan “ketenangan batin” yang diartikan sebagai tidak ada konflik, tidak ada masalah, hidup tanpa ambisi dan pasrah. Pandangan tersebut salah mengenai kesehatan mental. Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa kesehatan mental adalah kondisi yang disadari oleh individu, seperti kemampuan individu untuk mengelola stress, bekerja secara produktif dan menghasilkan serta berperan serta dalam komunitasnya (keseimbangan antara fisik, psikis, sosial, dan spiritual).

Sedangkan kondisi sakit dan sehat seseorang saling berhubungan. Oleh karena itu sangat sulit untuk memberikan batasan yang jelas antara keduannya. Pribadi yang sehat merupakan proses terus menerus dan berulang-ulang dalam kehidupan, sehingga adakalanya kualitasnya baik maupun menurun.

Kesehatan mental yang terganggu akan berdampak langsung pada perasaan individu, kecerdasan, perilaku dan kesehatan badan mereka. Nah, sebenarnya ada beberapa cara untuk mengembangkan pribadi yang sehat, dikutip dari Hahn & Payne:2003, seperti memperbaiki komunikasi, lebih banyak mendengarkan dari pada berbicara, berempati, penggunaan humor yang efektif atau tepat, mampu mengelola stres dan emosi, membangun kehidupan yang proaktif (menggali potensi diri, memperbaiki diri, memiliki etos atau usaha dalam menggapai suatu mimpi, dan dynamic living).

Symptom atau gejala yang tampak seperti dijelaskan diatas merupakan manivestasi atau perwujudan dari mental yang kurang sehat. Setiap individu memiliki gejala-gejala yang berbeda. Begitu pula cara menyelesaikan masalah tersebut. Penyelesaian disini bukan untuk “melarikan diri” melainkan secara terus menerus berusaha menjadi individu yang memiliki mental yang sehat.

Nah, yuk kita mulai menjadi pribadi yang memiliki mental yang sehat dengan tetap berfikir positif, percaya diri, berani mengakui kesalahan jika memiliki kesalahan.

Oleh : Nahla Nur Afni Oktafia, S.Pd.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *