Kebaikan yang Dimulai dari Kebiasaan Diri

Pernahkah kita mendengar salah satu atau mungkin semua pepatah asing yang berbunyi “Quality is not an act, it is a habit”,habit is power”,we first make our habits then our habits make us”, atau “Habits can make you or breaks you”. Mungkin masing-masing dari kita sempat dan pernah mendengar pepatah-pepatah di atas, dan jika kita refleksi kembali, apakah anda setuju dengan pepatah tersebut?

Habit merupakan kebiasaan seseorang yang dilakukan konstan dan terus menerus. Kebiasaan bisa menjadi penolong kita atau sebaliknya, dia bisa menjadi beban terburuk bagi kita. Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk membiasakan diri dengan hal-hal baik, saat kita ingin membangun dan meraih banyak keberhasilan dalam hidup. Sean Covey dan salah satu bukunya yang membahas tentang tujuh (7) kebiasaan baik, membantu kita untuk memiliki kebiasaan baik yang hanya berhubungan dan menguntungkan diri kita, namun juga untuk orang di sekitar kita. Berikut pembahasan singkat tentang tujuh kebiasaan tersebut.

  • Be Proactive

  Be Proactive adalah membiasakan diri kita untuk bertanggung jawab atas perilaku yang kita pilih dan bertanggung jawab atas perasaan kita sendiri. “Aku yang mengeendalikan. Aku adalah pemimpin di hidupku dan aku bisa memilih apa yang akan aku lakukan. Bahagia atau tidak bahagianya diriku, adalah tanggungjawabku bukan orang lain.”

Membiasakan diri untuk berfokus pada hal yang bisa kita lakukan, dan tidak mengkhawatirkan hal yang bukan menjadi kontrol kita adalah kunci untuk menjadi orang yang proaktif.

  • Begin with the End in Mind

Kebiasaan kedua adalah dengan membuat gambaran/tujuan yang jelas tentang apa yang diinginkan dalam hidup ini. Dengan membuat gambaran tujuan yang jelas, kita bisa menentukan apa dan bagaimana kita akan melangkah selanjutnya. Tujuan ini juga diartikan dengan menentukan value dan prioritas kita.

  • Put first things first

Kebiasaan ini adalah kebiasaan untuk kita bisa belajar memanajemen waktu dan menentukan hal-hal yang menjadi prioritas. Membiasakan diri untuk mengatakan “tidak” pada hal yang tidak menjadi prioritas dan mengutamakan tujuan kita sebagai yang utama, merupakan aplikasi dari kebiasaan ini.

  • Think Win-win

Kebiasaan mencari solusi terbaik dan mengusahakan “kemenangan” untuk semua pihak tanpa saling menyakiti adalah tujuan dari penerapan kebiasaan ini. Bagaimana kita tetap bisa merasa bahagia ketika teman kita mendapatkan prestasi yang lebih baik, mendapatkan pengalaman yang lebih baik, tanpa merasa tersaingi dan merasa kalah.

Kebiasaan ini berfokus pada bagaimana kita meringankan beban dan ikut serta dalam kebahagiaan orang lain.

  • Seek first to understand, then to be understood

Pada dasarnya salah satu kebutuhan manusia yang paling dalam adalah untuk ‘dimengerti dan dipahami’ dan kunci dari kebiasaan baik kali ini adalah ‘listen first, talk second’.

Saat kita mendengar dan memahami orang lain dengan sudut pandangnya, kita akan bisa memilih cara berbagi sudut pandang kita tanpa melukai sudut pandang orang tersebut.

  • Synergize

Alone we can do so little, together we can do so much ­– Helen Keller.

Bersinergi, adalah kebiasaan untuk bisa menjalin hubungan dan kerja sama dengan orang lain. Memahami peran dan tanggungjawab diri sebagai bagian dari kelompok dengan tujuan mencapai tujuan yang lebih baik, adalah proses dari pembiasaan ini. Beberapa penanda kita sudah bisa bersinergi dalam kelompok adalah ketika kita bisa merayakan perbedaan yang ada, adanya kerjasama, selalu berpikiran terbuka, dan berusaha mencari cara yang baru dan lebih baik untuk mencapai tujuan bersama.

  • Sharpen the saw

Pernahkah anda merasakan diri kalian sedang kosong atau sedang tidak stabil secara emosional? Kebiasaan ini bertujuan agar kita bisa memperbaharui dan memperkuat empat dimensi dalam diri kita (body, mind, heart, and soul). Rasanya penting untuk kita bisa menjaga keseimbangan diri, karena empat dimensi dalam diri kita saling berhubungan.

Banyak kebiasaan yang juga bisa menjadi identitas diri kita. Baik dan buruknya kebiasaan diri kita akan bisa dirasakan diri kita sendiri maupun orang lain. Mari kita perbaiki saat kita merasa itu bisa melukai diri kita dan orang lain. Perubahan baik sekecil apapun yang kita biasakan, akan mengejutkan hasilnya ketika kita melihat hasil akhirnya nanti.

Sumber : Sean. 1989. The 7 Habits of Highly Effective People. USA: Free Press.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

raja111