Waktu itu Juli 2003 pertama kalinya saya melangkah kaki di Kota Malang sebagai mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri. Rasa syukur tak terhingga saya tujukan pada Allah SWT yang telah memudahkan langkah kaki saya di kota ini. Kakak keempat saya yang waktu itu sebentar lagi lulus kuliah memberi pesan pada saya agar selalu menggunakan Bahasa Indonesia ketika bercakap-cakap dengan orang yang baru dikenal di kota ini. Awalnya saya merasa aneh karena saya tidak terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Keluarga saya juga tidak pernah membiasakannya. Tetapi saya juga merasa aneh jika memakai dialek Bahasa Tegal di kota ini. Secara otomatis mungkin akan membuat lawan bicara cengar-cengir atau bahkan tertawa terbahak-bahak.
Kata yang terdengar pertama kali adalah kata ‘pancet’ , ‘kate’, ‘mari’, ‘yo opo’, ‘luwe’, ‘tuwek’, ‘budal’, otak saya segera mencatat kosakata khas kota ini. Setelah berbulan-bulan kosakata baru bertambah tapi saya belum berani mempraktikannya karena lidah masih terasa kaku. Pernah saya coba menggunakan dialek Malang untuk bercakap-cakap dengan teman tapi hasilnya malah kosakata dialek Tegal ikut nimbrung dalam kalimat saya belum lagi ditambah kata-kata Bahasa Indonesia.
Menurut data dari https://kebudayaanindonesia.net Bahasa Jawa (basa Jawa) termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesian, yang hari ini menjadi bahasa ibu bagi lebih dari 40 persen penduduk dari populasi masyarakat Indonesia, yang tersebar hampir di seluruh penjuru tanah air. Menurut data sensus 2000, penutur bahasa Jawa di Indonesia adalah sebanyak 84 juta jiwa lebih.
Dialek Bahasa Jawa antara lain Jawa Tengahan, yang dipengaruhi dialek Surakarta dan dialek Yogyakarta, yang dianggap sebagai dialek standar. Berikut sejumlah dialek dalam ‘rumpun’ dialek Jawa Tengahan:
- Dialek Pekalongan, yang dituturkan di daerah Pekalongan serta di Pemalang.
- Dialek Kedu, yang dituturkan di daerah-daerah bekas keresidenan Kedu, yakni Temanggung, Kebumen, Magelang, dan Wonosobo.
- Dialek Bagelen, yang dituturkan di Purworejo.
- Dialek Semarang, yang dituturkan Semarang, Salatiga, Demak, dan Kendal.
- Dialek Pantai Utara, atau dialek Muria, dituturkan di Jepara, Rembang, Kudus, Pati, dan juga di Tuban dan Bojonegoro.
- Dialek Blora, yang dituturkan di Blora, bagian Timur Grobogan dan bagian Barat Ngawi.
- Dialek Surakarta, yang dituturkan di Surakarta, Karanganyar, Wonogiri, Sukoharjo, dan Boyolali
- Dialek Yogyakarta, yang dituturkan di Yogyakarta dan Klaten.
- Dialek Madiun, yang dituturkan di Provinsi Jawa Timur, termasuk Madiun, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, dan Magetan
Selanjutnya adalah Jawa Kulonan , dialek ini dituturkan di bagian Barat Jawa Tengah dan di sejumlah wilayah Barat Pulau Jawa, yang meliputi:
- Dialek Banten Utara (Jawa Serang), yang dituturkan di Serang, Cilegon, dan bagian Barat Tangerang
- Dialek Cirebon (Cirebonan atau Basa Cirebon), yang dituturkan di Cirebon dan Losari, Sementara dialek Indramayu (atau Dermayon) yang dituturkan di Indramayu, Karawang, dan Subang, oleh banyak pihak digolongkan ke dalam Cirebonan.
- Dialek Tegal (Tegalan atau Dialek Pantura), dituturkan di Tegal, Brebes, dan bagian Barat Kabupaten Pemalang.
- Dialek Banyumas (Banyumasan), dituturkan di Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, dan Bumiayu.
Oleh penutur bahasa Jawa lainnya, dialek Jawa Kulonan ini sering disbut basa ngapak-ngapak.
Selain Jawa Tengahan dan Jawa Kulonan, dikenal juga istilah Jawa Timuran, yang dituturkan di ujung Timur Pulau Jawa, dari mulai wilayah Sungai Brantas di Kertosono, dan dari Nganjuk hingga Banyuwangi, yang mencakup provinsi-provinsi di Jawa Timur, kecuali Pulau Madura. Dialek-dialek dalam ‘rumpun’ Jawa Timuran. Yakni:
- Dialek Surabaya (Suroboyoan), yang umumnya dituturkan di Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Pasuruan.
- Dialek Malang, yang dituturkan di Malang dan juga di Mojokerto.
- Dialek Jombang, yang dituturkan di Jombang.
- Dialek Tengger, yang digunakan oleh orang-orang Tengger di sekitar Gunung Bromo.
- Dialek Banyuwangi (Basa Osing), yang dituturkan oleh orang-orang Osing di Banyuwangi.
Bahkan di luar negeri pun juga terdapat penutur-penutur Bahasa Jawa, di antaranya Suriname, Kaledonia Baru, Malaysia, dan Singapura.
Dalam kurun waktu 18 tahun merantau, alhamdulillah saya baru mengenal enam dialek selain dialek daerah asal saya, antara lain, dialek Cirebon, dialek Banyumas, dialek Malang, dialek Suroboyoan, dialek Madiun serta dialek Banyuwangi. Meskipun tidak memahami seratus persen apalagi menjadi penutur aktifnya tetapi paling tidak saya pernah melihat langsung penutur asli dari dialek-dialek tersebut. Hal itu menjadi pengalaman yang sangat berarti dalam hidup. Serta menjadi rasa syukur kepada Sang Pencipta karena dapat mengenal dialek-dialek tersebut.
Melihat berlimpah ruahnya dialek dalam Bahasa Jawa maka menjadi tugas kita bersama untuk melestarikan dialek sesuai dengan dialek Bahasa Jawa yang kita pahami. Bangga berinteraksi dengan penutur dialek yang berbeda serta tidak melupakan dialek asal meskipun tinggal di daerah yang berdialek berbeda, minimal diterapkan di lingkup keluarga.
Ini biasanya menjadi tugas berat bagi para perantau untuk memertahankan dialek asal. Keberlimpahan dialek ini juga dapat dilestarikan dalam bentuk seni, film, atau pun karya sastra agar generasi tidak melupakan dialek akibat gempuran bahasa asing yang saat ini merajalela di dunia sastra, seni, dan film.
Oleh : Imam Munandar, S.Pd. Gr.

