Menulis Puisi sebagai Upaya Self Healing

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar kata puisi. Biasanya yang ada di benak orang-orang, puisi adalah karya tulis yang terkadang sulit dipahami bagi pembacanya tapi juga terasa indah jika dibaca atau didengarkan.Meskipun begitu menurut orang-orang yang gemar berkecimpung dalam dunia puisi. Puisi adalah dunia belantara kata-kata yang membebaskan penulisnya untuk mencurahkan segala isi hati tanpa memedulikan apakah pembaca dapat menangkap makna pada puisi tersebut. Meskipun pusi memiliki pernak-pernik unsur intrinsik didalamnya seperti rima, diksi, gaya bahasa, tipografi, ataupun tema. Hal itu tidak menjadi penghalang bagi penggemar pusi untuk menuangkan isi perasaan ataupun pikiran.

Puncak dari penuangan perasaan dan pikiran tersebut adalah sebuah katarsis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia katarsis adalah penyucian diri yang membawa pembaruan rohani dan pelepasan dari ketegangan. Katarsis menurut ilmu psikologi adalah cara untuk mengungkapkan emosi secara positif agar seseorang merasa lega dan bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan perasaan yang lebih baik. Menurut teori psikoanalitik, pengungkapan emosi ini berkaitan dengan kebutuhan untuk meredakan konflik yang berada di bawah sadar. Jadi, stres dan frustrasi sebenarnya bisa menjadi alarm bahwa ada pertarungan batin yang butuh penyelesaian dengan cara yang lembut dan bertahap.

Dikisahkan di film Habibi dan Ainun, Presiden Republik Indonesia ketiga, Bapak B.J. Habibi pernah didiagnosis mengidap psikosomatik malignant ketika menjalani masa-masa sulit tanpa Ibu Ainun. Pilihan penyembuhannya menurut dokter adalah masuk rumah sakit jiwa, dirawat di rumah dengan pengawasan dokter, curhat dengan teman terdekat, atau menyelesaiakn sendiri masalah tersebut. Beliau akhirnya memilik pilihan yang terakhir. Beliau menuliskan segala kenangan indah ketika masih bersama Ibu Ainun. Beliau berhasil meggoreskan kata-kata menjadi puisi indah hingga menjadi energi positif bagi beliau. Akhirnya beliau berhasil sembuh dan tetap dapat hidup produktif dan bermanfaat bagi sekitarnya. Setelah dibukukan karya tersebut kemudian difilmkan oleh sebuah rumah produksi.

Berikut adalah beberapa tahap dalam menulis puisi.

Tahap pertama adalah tahap permulaan menulis puisi, pada tahap ini biarkan ide-ide yang terlintas dalam pikiran kita tuliskan apa adanya. Meskipun hanya berwujud diksi pendek atau pun kata-kata yang terdengar tidak biasa. Kita harus berani menuliskannya apa adanya. Tahap ini juga terkadang disebut tahap asosiasi bebas.

Tahap pertengahan, untaian baris atau diksi pusi yang kita kumpulkan dari tahap pertama kita baca berulang kali. Sambil dalam hati kita bertanya pada diri sendiri apakah ini sudah mewakili perasaan kita saat ini. Tahap ini juga disebut sebagai insight atau pemahaman.

Tahap terakhir, yaitu menuliskan kembali secara utuh pusi. Pada tahap ini penulis merenungkan kembali puisi secara utuh. Pada tahap ini penulis juga dapat menambahkan pernak-pernik puisi misalnya rima, diksi indah atau unik, serta gaya bahasa.

Kita dapat merasakan cerita segala rasa ketika senantiasa rutin menulis puisi. Perasaan suka duka datang silih berganti ketika ternyata puisi yang dibuat sangat cocok mewakili perasaan kita saat itu. Belum lagi ditambah dengan rasa penasaran kita terhadap puisi-puisi yang sudah terkenal. Ada perasaan terbersit dalam hati untuk mempelajari puisi-puisi tersebut. Sehingga tidak terasa kualitas puisi akan semakin meningkat dengan sendirinya. Bahkan jika sudah terkumpul beberapa kita dapat mewujudkan dalam bentuk antologi puisi (kumpulan puisi).

Agar semakin intens kita dengan puisi. Bisa kita tambahkan kegiatan apresiasi puisi. Misalnya dengan membacakan puisi-puisi karya kita sendiri, mendeklamasikan puisi, atau memusikalisasi puisi. Harapan dari puisi sebagai upaya self healing atau penyembuhan diri adalah mampu memunculkan energi positif bagi penulisnya sendiri atau bagi pembacanya. Energi positif tersebut dapat menjadi kekuatan agar seseorang menjadi manusia yang produktif, bermanfaat bagi sekitarnya, serta optimis dalam menjalani kehidupan. Selamat menulis puisi.

Ditulis oleh Imam Munandar, S.Pd.,Gr.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

raja111