Blended Learning Solusi Pembelajaran New Normal

Menyambut tahun pelajaran baru 2021-2022 seluruh sekolah di Indonesia bersiap melakukan pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) setelah di tahun pelajaran sebelumnya 2020-2021 dengan sistem pembelajaran dalam jaringan penuh (full online), hal ini menjadikan angin segar untuk guru, peserta didik, bahkan orang tua atau wali peserta didik yang sangat jenuh dengan sistem pembelajaran dalam jaringan (Noval dkk., 2020). Penyelenggaraan PTMT didasarkan pada Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia nomor 03/KB/2021, nomor 384 tahun 2021, nomor HK.01.08/MENKES/4242/2021 dan nomor 440-717 tahun 2021 Tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Di Masa Pandemi COVID-19. Pada SKB tersebut dijelaskan apabila pemerintah daerah (Pemda) sudah memberikan izin dan satuan pendidikan telah memenuhi syarat, maka pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) dapat dilaksanakan dengan tetap menjalankan protokol kesehatan dengan ketat. Kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan oleh satuan pendidikan tentu menyesuaikan dengan pola kehidupan baru atau yang sering disebut dengan New Normal. Dalam pelaksanaannya memperhatikan protokol kesehatan dengan menggunakan masker, cuci tangan pakai sabun (CTPS), dan physical distancing. Oleh sebab itu menurut Nurhadi (2020), model pembelajaran yang sesuai untuk digunakan dalam kegiatan PTMT di masa pandemi Covid-19 adalah Blended Learning atau Pembelajaran Baur (campuran) yang memadukan model pembelajaran tatap muka (offline) dan dalam jaringan (online).

Blended learning merupakan pembelajaran dengan mengkombinasikan berbagai teknologi berbasis web, untuk mencapai tujuan pembelajaran (Driscoll, 2002). Menurut Abdullah (2018) mendefinisikan blended learning sebagai campuran atau penggabungan pembelajaran tatap muka (face to face), pembelajaran online dan pembelajaran offline yang memungkinakan peserta didik dapat mengoperasikan rangkaian pembelajaran walaupun tidak terhubung dengan internet. Sementara pada Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pauddikdasmen di Masa Pandemi Covid-19 yang diterbitkan oleh Kemdikbudristek dan Kemenag (2021) menyebutkan blended learning secara sederhana sebagai model pembelajaran yang mencampurkan antara pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran jarak jauh baik sinkron maupun asinkron.

Langkah-langkah atau sintak pembelajaran dengan menggunakan model blended learning menurut Ramsay (2001) terbagi menjadi tiga tahapan yaitu seeking of Information, mencakup pencarian informasi dari berbagai sumber yang tersedia secara online maupun offline dengan peran guru sebagai pemberi masukan bagi peserta didik untuk mencari informasi yang relevan dan memiliki kejelasan akademis yang dapat dipertanggung jawabkan. Tahap kedua yaitu acquisition of Information, peserta didik secara kooperatif-kolaboratif secara online maupun offline berupaya menemukan, memahami, serta mengkonfrontasi dengan pemahaman yang ada dalam pikiran peserta didik sehingga mampu mengkomunikasikan kembali informasi yang telah berhasil diinterpretasikannya. Tahap ketiga synthesizing of knowledge, peserta didik secara online maupun offline dapat mengkonstruksi pengetahuan dari hasil analisis, diskusi, dan perumusan kesimpulan dari informasi yang diperoleh. Berdasarkan tiga Langkah atau sintak model pembelajaran blended learning tersebut menjadikan pilihan yang cocok untuk melakukan kegiatan pembelajaran di era New Normal yang masih diselenggarakan secara tatap muka terbatas yang tentunya agar mengurangi kerumunan serta mobilitas untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Pelaksaan kegiatan pembelajaran PTMT berdasarkan Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pauddikdasmen di Masa Pandemi Covid-19 (2021) dengan menggunakan blended learning dapat dilakukan dengan menggunakan komposisi 1:3. Setiap 1 jam PTMT bisa disertai dengan 3 jam pembelajaran online. Meski demikian sekolah dapat menyesuaikan berdasarkan kondisi dan keadaan sekolah masing-masing. Jika komposisi jam PTMT tidak terlalu banyak maka guru perlu membuat strategi pembelajaran saat PTMT agar lebih efektif dan efisien. Saat PTMT di sekolah guru hendaknya memilih kegiatan yang tidak dapat dilakukan saat pembelajaran online di rumah, seperti melakukan kegiatan praktik, diskusi mencari solusi atau jawaban, refleksi untuk mementukan Langkah perbaikan atau pengembangan selanjutnya, dan kegiatan umpan balik terhadap hasil perkerjaan atau tugas peserta didik saat pembelajaran online. Dalam pelaksanaan blended learning sekolah memiliki kebebasan untuk memilih kurikulum yang digunakan seperti kurikulum 2013 atau kurikulum kondisi khusus dan kurikulum mandiri, yang pasti prioritas guru tidak untuk menuntaskan kurikulum melainkan memastikan setiap peserta didik mengalami pembelajaran.

DAFTAR RUJUKAN

Abdullah, Walib (2018). Model Blended Learning dalam Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran. FIKROTUNA-Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam, 7(1).

Driscoll, M. (2002). Blended Learning: Let’s Get beyond the Hype. IBM Global Services

Kemdikbudristek., Kemenag (2021). Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pauddikdasmen di Masa Pandemi Covid-19. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dan Kementerian Agama Republik Indonesia.

Noval, Ahmad; Nuryani, Lilis Kholisoh (2020). Manajemen Pembelajaran Berbasis Blended Learning pada Masa Pandemi Covid-19. ISEMA-Jurnal Islamic Education Manajemen, 5(2), 201-220.

Nurhadi, Nunung (2020). Blended Learning dan Aplikasinya di Era New Normal Pandemi Covid-19. Jurnal Agriekstensia, 19(2), 121-128.

Ramsay (2001). Teaching and Learning with Information and Communication Technology: Succes Through a Whole School

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *