Arti kata di atas sudah banyak dikenal, yaitu jangan berusaha terlalu kuat. Sampai sekarang orang masih sering menggunakan kata-kata tersebut. Kalau ada orang yang bekerja terlalu kuat, tidak mengenal waktu, maka orang akan memberi nasihat “ojo ngoyo”. Orang yang mendapat nasihat pada umumnya berpikir: “Pekerjaan ini kan harus saya selesaikan, bagaimana mungkin harus tidak ngoyo?”.

Kata ‘ora ngoyo’  (tidak terlalu kuat) dalam mencapai sesuatu tidak berarti tidak bekerja keras atau bekerja dengan seenaknya, asal saja. Makna dari ‘ora ngoyo’ jauh lebih dalam dari pada itu. Begini ceritanya.

Manusia ditakdirkan hidup di bumi dengan mengemban misi dari Sang Pencipta. Tentu Sang Pencipta menginginkan semua manusia sukses dalam menjalankan misinya. Untuk itu manusia dilengkapi dengan kekuatan pada dirinya.  Kekuatan ini terdiri dari kekuatan pikiran, kekuatan spiritual (nurani) dan kekuatan naluriah.   Kalau ketiga kekuatan ini bersinergi maka akan muncul ke permukaan dalam bentuk kreativitas, kejujuran, empati, kesetiaan, kasih sayang, kepedulian dan sebagainya. Selain itu, orang juga lebih kreatif, lebih entusias, lebih tangguh secara mental dan seterusnya.

Kalau ketiganya tidak bersinergi maka yang dominan adalah pikiran dan selanjutnya pikiran akan bekerjasama dengan naluri (naluri itu hanya ada satu, yaitu naluri bertahan hidup ). Nurani tidak berperan. Faktor yang menyebabkan tidak terjadinya sinergi antara ketiga kekuatan tersebut adalah rasa takut  yang kemudian menyebabkan ketegangan pikiran dan jiwa yang secara umum disebut stress.

Rasa takut bersumber dari pengalaman masa lalu,  pengalaman yang sangat kuat berpengaruh (traumatis). Trauma dapat bersumber dari kesedihan, kekecewaan, kebencian,  dan bentuk tekanan lain.

Faktor stress menyebabkan terhalangnya tampilan kekuatan sinergis ke permukaan, antara lain bentuk kreativitas, kejujuran, empati, kesetiaan, kasih sayang dan kepedulian. Tanpa sinergi, maka yang tampil ke permukaan adalah produk naluri yang dikendalikan oleh pikiran, yaitu: kerakusan. Ingat naluri sendiri tidak mencipakan kerakusan. Hewan hidup hanya berdasarkan naluri tetapi tidak rakus. Tetapi naluri + pikiran pada manusia yang menciptakan kerakusan.

Kerakusan adalah keinginan untuk mendapatkan lebih banyak dan memiliki lebih banyak.  Karena selalu ingin mendapatkan lebih banyak dan memiliki lebih banyak, maka orang akan selalu  merasa harus bersaing, harus menyingkirkan pesaing, merebut peluang, takut kehabisan waktu dan sebagainya. Akibatnya terjadilah kebencian, kedengkian, dendam, dan sebagainya. Hasil akhirnya adalah stress.

Semua orang mengetahui bahwa stress merupakan penyebab timbulnya berbagai penyakit. Agar tidak sakit maka orang harus menjaga jangan sampai stress. Nasihat ojo ngoyo artinya silahkan berkerja keras tetapi jangan sampai stress. Lha bagaimana caranya?

Caranya adalah mengembalikan ketiga kekuatan asli yang diberikan oleh Sang Pencipta, yaitu pikiran, nurani dan naluri dalam keadaan sinergis. Untuk mencapi sinergi kita bekerja mundur, yakni dengan menerapkan tampilan (dari kekuatan sinergi)  yang muncul ke permukaan secara sadar. Caranya adalah dengan mengubah niat.

Kita ubah niat kita bekerja: tidak untuk mendapatkan lebih banyak dan memiliki lebih banyak, tetapi untuk memberi kepada orang lain.  Mengapa kita harus memberi adalah karena kita peduli dan karena rasa kasih sayang.

Kalau Anda menerapkan niat tersebut secara konsisten, maka sedikit demi sedikit stress Anda akan hilang, penyakit Anda akan hilang dan Anda akan merasa bahagia. Anda merasa hidup ini lebih bermakna.

Bukan itu saja. Anda juga akan lebih kreatif, lebih bersemangat, lebih ramah dan  mudah berkomunikasi dengan orang lain. Akibatnya semua menjadi lebih mudah seakan-akan datang sendiri secara kebetulan. Mengapa begitu? Jawaban secara spiritual  adalah karena Sang Pencipta melihat Anda sekarang hidup bukan untuk diri Anda sendiri tetapi untuk menjalankan misi-Nya sehingga Anda difasilitasi.

Jawaban secara rasional adalah bahwa dengan tidak Stress maka kekuatan atau energi dalam diri Anda, yaitu kreativitas dan antusisme, mencul ke permukaan. Akibatnya Anda dengan mudah mendapatkan pemikirian-pemikiran (ideas) yang kemudian Anda bagi dengan orang lain. Karena tidak stress maka Anda tampil dengan lebih percaya diri sehingga Anda tidak sombong, tidak kasar, tidak egois, tidak memaksa, dan lebih jujur. Jadi orang lebih percaya kepada Anda untuk dijadikan partner atau sekadar menjadi teman.

Oleh: Soedjiono, S.Pd.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *