TILIK: Saatnya Kepopuleran Film Pendek Berbahasa Jawa

Ilustrasi quotes Bu Tejo dalam Film Tilik

TILIK (Menjenguk) 2018

Sutradara        : Wahyu Agung Prasetyo

Skenario          : Bagus Sumartono

Pemain            : Siti Fauziah, Brilliana Desy, Angeline Rizky, Dyah Mulani, Lully Syahkisrani, Hardiansyah Yoga Pramata, Tri Sudarsono, Gotrek, Ratna Indriastuti, dan Stephanus Wahyu Gumilar

Produksi          : Ravacana Films

Fitnah kuwi yo, luwih kejem timbangane pembunuhan.” [Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.] – Yu Sam

Dilihat dari judul filmnya pasti membuat orang penasaran untuk mengetahui artinya. Kata tilik memang bukan menjadi kata yang terbiasa terdengar oleh kalangan muda. Dengan kata-kata tersebut Wahyu Agung Prasetyo ingin menghadirkan tanda tanda cukup besar dengan judul “Tilik”. Kata tilik berasal dari bahasa Jawa yang berarti menjenguk.

Keunggulannya, sebuah film menghadirkan tokoh-tokoh yang akan menghidupkan adanya skenario sebagai jalan cerita utama film. Tokoh yang dihadirkan dalam film ini menggambarkan tokoh yang ada di dunia nyata secara apik. Alhasil, penonton film ini akan dihipnotis untuk merasa jengkel, kesel, sampai kasihan dengan berbagai peran yang disuguhkan.

Ceritanya cukup membuat kernyitan dahi bagi penonton yang melihatnya. Pasalnya, di awal sudah diberikan permasalahan besar mengenai siapakah Dian? Sampai-sampai terjadinya dua kubu pembelaan antara Bu Tejo yang pro bahwa Dian sebagai perempuan tidak beres dan Yu Ning yang membela Dian bahwa yang diungkapakan Bu Tejo salah besar. Permasalahan tersebut disajikan selama hampir 32 menit dengan ocehan khas ibu-ibu Jawa.

Tilik sebenarnya sebuah film yang mengisahkan rombongan ibu-ibu yang menaiki truk untuk pergi menjenguk Bu Lurah yang sedang dirawat di rumah sakit. Di sepanjang jalan tidak ada kata sepi bagi rombongan ibu-ibu tersebut karena diisi oleh ocehan ibu-ibu yang menggosipkan Dian (calon menantu Bu Lurah). Gosip tersebut berhubungan bahwa Dian merupakan perempuan tidak beres. Gosip tersebut Bu Tejo temukan di medis sosial, tetapi Yu Ning mengingatkan bahwa tidak baik ketika belum mengetahui keakuratan sumbernya. Sesampainya di rumah sakit Dian menyayangkan kedatangan tetangganya karena Bu Lurah belum dapat dijenguk karena masih masuk ICU.  Di akhir cerita diperlihatkan Dian masuk ke dalam sebuah mobil yang terdapat seorang lelaki, lelaki tersebut adalah ayah Fikri yang ternyata mereka sudah menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi.

Terlepas dari jalan cerita yang mengernyitkan dahi, setting tempat yang disuguhkan di film ini membuat mata penonton termanjakan oleh keindahaan alam Kecamatan Dlingo, Bantul, Yogyakarta. Meskipun hanya dari sebuah truk, tetapi keindahan tersebut disuguhkan oleh adanya jalan raya yang dilewati truk tersebut sampai tempat pemberhentian truk tersebut.

Pada film ini juga nilai budaya khususnya Jawa disuguhkan dengan apik. Dari perempuan Jawa tidak boleh terlalu lama membujang, alhasil dapat menjadi buah bibir oleh masayarakat sekitar. Lalu, ketika ada tetangga yang sakit maka warga akan bersama-sama menjenguk. Selain itu, dari sebuah truk pun dapat semiotika budaya yang khas. Misalnya ketika ada bunyi klakson di truk sebelum lampu merah menandakan penumpanya harus menunduk agar tidak terlihat dan ditilang oleh polisi.

Dari film ini juga dapat tergambar jelas pesan yang ingin oleh Wahyu bahwa informasi harus dapat kita telaah dahulu jangan percaya dengan kabar hoaks, jangan mau menerima suap, dan jangan suka menyebar aib atau fitnah sesama. Namun dari semua pesan yang tergambar dari film Tilik yang paling dominan adalah jangan terlalu percaya orang dari fisiknya namun juga ucapan dan hatinya.

Film Tilik ini dirilis bulan September 2018, tetapi baru tanggal 17 Agustus 2020 dirilis di Youtube. Terlebih masih baru dirilis, tetapi film ini sudah viral di kalangan mana pun terbukti sudah lebih 22 juta kali ditonton. Dari viralnya film Tilik tersebut secara tidak langsung dapat menunjukkan pertunjukkan seni peran berbahasa Jawa bukan hanya terdapat pada seni peran tradisional, seperti ludruk dan ketoprak, melainkan juga dapat dipercantik dan disesuaikan dengan kalangan millenial saat ini. Hal tersebut terbukti ampuh dengan berkembangnya quotes-quotes berbahasa Jawa yang dijadikan meme atau stricker di media sosial.

Melalui film pendek berbahasa Jawa kalangan millenial dapat belajar bahasa Jawa, mereka juga dapat mempelajari unggah-unggah atau budaya Jawa dan membuat belajar bahasa Jawa menyenangkan serta tidak membosankan. Harapannya dengan kepopuleran film Tilik ini membawa angin segar untuk film berbahasa Jawa yang lain untuk memproduksi film-film yang lebih inspiratif lagi.

Oleh: M. Fernanda Adi Pradana, S.Pd.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *