Jangan Sembarangan Bawa Pulang

Siang itu, dari dalam kamar Alana mendengar bunyi bel sepeda tua yang sedang dimainkan berkali-kali “ding….ding…ding…”. Bunyi itu terus berulang dan diakhiri gelak tawa seorang perempuan muda. Alana berpikir mungkin itu suara dari luar rumah atau itu hanya salah dengar saja, kemudian dia kembali melanjutkan tidur siangnya. Sore menjelang magrib, Alana terbangun setelah mendengar suara petir yang kencang dan mengagetkannya, ternyata di luar hujan sedang deras-derasnya. Usai menengok hujan dari jendela kamarnya, Alana lalu beralih ke ruang tengah dan mendapati sebuah rongsokan sepeda tua yang tersandar di samping kursi ruang tamu. Alana yang masih belum terlalu sadar, terbelalak melihat rongsokan sepeda tua di dalam rumah kontrakan kecilnya. “Siapa yang membawa benda tua yang sudah jelek ini? Sudah tak layak kenapa masih dibawa pulang” gumamnya.

            Ternyata siang tadi teman satu kontrakan Alana, Kia, membawa sebuah sepeda besi tua yang sudah rongsok, warnanya putih dan sudah ada beberapa cat yang mengelupas. Gigi dan rantainya pun sudah berkarat. Entah apa alasan Kia membawa sepeda besi tua itu pulang ke rumah kontrakan mereka. Tidak serta merta membuang kembali sepeda besi tua itu, Alana memutuskan untuk menunggu dan bertanya langsung kepada Kia. Sembari menunggu Kia pulang, Alana kembali ke kamar dan mengerjakan tugas-tugas yang masih belum terselesaikan. “Ding….ding….ding….” bel sepeda tua itu berbunyi lagi, tapi kali ini tidak diikuti dengan gelak tawa seorang perempuan. Alana merinding dan melihat sepeda tua itu, tapi tidak didapatinya seorangpun di sana.

            Tak berapa lama Kia datang, dengan senangnya dia berkata “Lana! aku menemukan sepeda cantik ini di taman dekat persimpangan jalan tadi, sepertinya sepeda ini sudah dibuang oleh pemiliknya, dan kurasa sepeda ini masih bisa digunakan jika diperbaiki…” katanya dengan antusias. Alana yang mendengar hal itu heran dengan apa yang dipikirkan oleh Kia, sepeda tua itu benar-benar terlihat seperti barang rongsokan, mana mungkin bisa digunakan lagi jika diperbaiki. Ditambah lagi dengan kejadian-kejadian aneh yang dibawanya.

            Suatu malam, ketika Kia tidak ada di rumah, Alana merasakan ada sesuatu yang janggal lagi dengan sepeda tua itu. Tiba-tiba dia melihat setir sepeda membelok ke arah yang berlawanan dan di saat itu juga tidak ada angin atau benda lain yang menyenggolnya. Alana mencoba untuk tetap tenang dan berpikir positif, mungkin saja tadi memang ada benda lain yang menyenggol setir sepeda namun Alana tidak melihatnya. Dikumpulkannya semua keberanian dalam hatinya, dipindahkanlah sepeda tua rongsok itu keluar rumah. “Hufftt…sudah lebih baik di luar saja, tidak mengganggu pikiranku!” gumamnya dan kembali masuk ke kamar. Tak berselang waktu lama, Alana berniat untuk mengambil sesuatu di dapur. Betapa terkejutnya dia mendapati sepeda tua itu sudah berada di tempat semula, di sebelah kursi ruang tamu.

            Alana berlari ke dalam kamar dan mengunci pintu rapat-rapat, dia ketakutan bukan main. “Ding…ding..ding…..hahahaha…” gelak tawa perempuan itu terdengar lagi. Mendengar itu mata Alana memerah, semua ketakutannya memuncak, gelisah dan hampir menangis, dia hanya berharap agar Kia segera pulang ke rumah. Kejadian-kejadian aneh itu selalu muncul saat Kia tak ada di rumah. Alana merasa tidak benar jika tetap menyimpan sepeda rongsok aneh ini di rumah, dia ingin Kia segera membuang dan mengembalikannya ke tempat semula.

            “Aku pulang..” suara Kia terdengar samar-samar dari dalam kamar. Alana segera berlari dan bercerita panjang lebar kepada Kia tentang hal aneh yang telah dialaminya semenjak sepeda tua rongsok itu dibawa ke rumah. Kia tidak percaya dan beranggapan bahwa Alana hanya mengada-ngada dan membual cerita saja. Dia merasa Alana sejak awal memang tidak suka dengan keberadaan sepeda itu. “Jika kau tak percaya dengan perkataanku, coba saja besok pulanglah lebih awal dan lihat apa yang akan kau temukan!” kata Alana sembari membanting pintu kamarnya.

            Keesokan harinya, Kia mengikuti saran dari Alana, dia pulang lebih awal dan membersihkan sepedanya, dilapnya semua bagian sepeda itu, ditekannya pula bel sepeda itu “Ding…ding..ding…”, setelah itu Kia kembali ke kamar dan tidak merasa ada yang aneh atau janggal sedikitpun. Namun, saat tengah malam mereka berdua tiba-tiba mendengar bunyi hentakan kaki yang berasal dari ruang tamu, terus menerus dan mondar-mandir. Tak hanya berhenti di situ, terdengar pula bunyi rantai sepeda yang seolah sedang dikayuh. Kia terkejut, memang benar apa yang dikatakan oleh Alana, Ada yang janggal dengan sepeda ini. Kia segera berlari ke kamar Alana dan berkata “Sebaiknya sepeda ini segera kita kembalikan ke tempat asalnya, maafkan aku tidak mempercayaimu!” sambil bergetar memegang tangan Alana.

            Sepanjang perjalanan mengembalikan sepeda itu, Alana dan Kia hanya bisa berdoa semoga tidak terjadi hal yang menakutkan. Kia mengembalikan sepeda itu di tempat semula, tepat di taman dekat persimpangan jalan. Mereka berdua berlari sekencang mungkin dan tidak berharap ada orang lain yang memungut sepeda itu lagi.

Oleh: Risky Rimadhani, S.Pd.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *