“Keinginan Denma” Karya Adhwaa Intan Syafina

Keinginan Denma

Adhwaa Intan Syafina Kelas 9A

Denma, seorang laki-laki dengan wajah yang dipenuhi dengan lingkaran warna biru duduk di sebuah gedung yang sudah lama tidak digunakan sambil melihat langit gelap yang mulai menguasai kota kecilnya. Gedung lama itu tidak memiliki dinding ataupun kaca, bahkan tidak ada perlindungan sama sekali. Tetapi, Denma merasakan kalau tempat itu adalah tempat yang tepat untuknya.

Denma melihat cahaya-cahaya kecil di bawahnya dengan wajah yang lesu. Denma sudah terbiasa melihat semua itu walaupun begitu, perasaan tenang yang ia inginkan tidak pernah terasa.

Ia sadar, kalau akhir-akhir ini ia sudah terlalu sering pergi ke gedung lama itu hanya untuk melihat kota malam, apalagi ketika ia mulai mendapatkan perilaku buruk dari keluarga dan teman-temannya. Semua tidak berjalan dengan baik saat Denma mulai memasuki tingkat SMP, bahkan tidak ada yang berubah saat ia memasuki tingkat SMA. Teman-teman SMA nya mulai mengganggu Denma tanpa alasan yang jelas. Denma pikir teman-temannya mengganggu dirinya hanyalah semuah ‘lelucon teman’. Tetapi ‘lelucon teman’ itu semakin lama semakin kasar dan tidak masuk akal umtuk dijadikan sebagai bahan tawa. Setiap kali Denma berusaha melawan, kawan bully itu akan selalu mengeroyok Denma habis-habisan. Ditambah lagi, keadaan keluarganya yang tidak mendukung Denma sama sekali. Bahkan kedua orangtuanya tidak mengetahui keadaan Denma saat ini. Tidak hanya keluarganya, orang yang tidak dikenalpun, tidak memperdulikan saat Denma mulai dipukuli oleh kawan bully-nya.

Walaupun begitu Denma tetap berusaha berpikir positif. Tidak mempunyai teman untuk diajak biacara, iapun mengkonsultasi dirinya sendiri hanya dengan duduk di gedung lama yang sepi.

Melihat jarum jam menunjukan jam 8 malam, Denma mulai beranjak pergi dari gedung lama itu. Denma tidak merasa takut sama sekali pergi dari gedung itu dalam keadaan malam, karena ia berpikir bahwa apapun yang berada dalam gedung tersebut adalah kawannya.

Tiba di rumah, Denma masuk ke dalam dengan salam. Seperti biasa, tidak ada yang menjawab salamnya sama sekali walaupun terdapat orang didalam rumah. Denma juga tidak mempedulikan hal itu, karena ia mengucapkan salam itu untuk rumahnya, bukan untuk yang tinggal didalamnya. Saat berjalan menuju kamar, tiba-tiba ayahnya menghampiri Denma.

“Darimana saja kamu? Kenapa pulang malam sekali??”, tanya ayah kepada Denma.

“Bukan urusan ayah.” Jawab Denma tidak sopan, walaupun hatinya sangat senang saat ayahnya bertanya seperti itu. Tetapi, Denma tahu kalau kebaikan ayahnya itu seperti angin. Sangat cepat pergi, tetapi sangat terasa saat tersentuh. Sehingga Denma berusaha untuk tidak terlalu terjeremus dengan kebaikan ayahnya itu.

Mendengar jawaban yang tidak sopan dari anaknya, ayah Denma marah besar dan mulai memukul Denma dengan keras. Di saat ayahnya memukul dirinya, ia melihat ibunya hanya memandangi kegiatan itu dengan wajah yang acuh. Denma sudah lelah dengan perilaku kedua orangtuanya, sehingga memukul balik ayahnya dengan keras dan sempat membuat ayahnya terhuyung. Kesempatan itu ia gunakan untuk pergi ke dalam kamar kecilnya, pintu coklatnya ia kunci berkali-kali berharap ayahnya tidak bisa masuk ke dalam kamarnya.

Dalam kamar, Denma tidur menutupi seluruh wajahnya dengan sebuah bantal. Sulit baginya untuk menanggung semuanya sendirian. Menangis tanpa suara, cukup membuat dadanya sesak. Hanya bantal itu yang menampung semua tangisan Denma dengan ikhlas. Hanya selimutnya yang akan memeluk Denma saat ia butuh kasih sayang. Semua yang Denma butuhkan, hanya diberikan oleh benda yang tidak bernafas, tidak berbicara, tidak melihat, hanya bisa dirasakan, dan dilihat. Tanpa sadar, Denma ketiduran di saat ia menangis.

Denma dengan mudah bangun di pagi hari tanpa bantuan alarm. Walaupun begitu, saat ini Denma kesulitan membuka matanya. Mengingat, ia menangis kemarin malam. Denma merasa tidak ingin masuk sekolah hari ini. Tetapi, ia juga tidak ingin diam di rumah. Badannya terasa sangat sakit, saat ia ingin beranjak dari tempat tidurnya. Tetapi, Denma sudah terbiasa dengan kesakitan itu. “Sial, aku lupa ganti baju.”, Denma mengumpat ketika melihat dirinya masih memakai baju seragam sekolahnya. Dengan malas, Denma mengambil keperluan sekolahnya dan langsung berangkat sekolah tanpa mandi.

Dalam perjalanan, Denma berdoa agar kawan bully-nya itu tidak mengeroyoki dirinya hanya untuk hari ini. Tetapi, doa itu tidak dikabulkan. Kawan bully itu selalu datang menghampirinya, melakukan semua kejahatan pada dirinya. Bahkan belum sampai di sekolah, Denma sudah dikeroyoki habis-habisan. Denma akhirnya bisa kabur dari kawanan bully itu.

Denma berlari menuju gedung lama. Dengan seragam yang sudah tidak bisa disebut ‘baju’ lagi, Denma terjatuh dalam keadaan sudah didalam gedung lama. Berusaha menenangkan diri. Tetapi amarah yang Denma rasakan tidak bisa pudar. Tidak memiliki cukup suara, Denma tidak bisa meneriakkan kesakitan yang ia rasakan. Di saat-saat seperti ini, Denma sudah tidak bisa menahan semuanya.

Ia sudah melakukan yang terbaik untuk kehidupan yang lebih baik. Tetapi yang Denma dapatkan hanyalah yang terburuk.

Denma tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi. Ia tidak memiliki siapapun. Ketika Denma mulai tenang, ia melihat warna-warna yang sangat menarik perhatian matanya. Warna itu membuat Denma menjadi sangat tenang, bahkan lebih tenang dari yang sebelumnya.

Jingga, putih, merah muda, ungu, merah, biru, semua warna itu bercampur aduk menjadikan langit seperti sebuah lukisan yang bahkan tidak bisa dibuat oleh tangan seorang seniman. Denma merasakan ketenangan yang selalu ingin ia dapatkan. Denma pun, mengambil sebuah kertas dan sebuah pensil. Ia menuliskan suatu pesan yang selalu ia ingin katakan, dapatkan, dan impikan. Kemudian kertas itu, ia lipat menjadi sebuah pesawat. Denma berjalan menaiki tangga, menuju lantai paling dari gedung lama itu. Di atas sana,Denma berharap, orang yang mendapatkan pesan ini dapat membuat hati seseorang menjadi tenang dan mengerti akan suatu hal. ia Dengan wajah yang tenang, Denma tersenyum, terasa lega dengan semua ini.

“Akhirnya aku mendapatkan apa yang aku inginkan.” Ucap Denma menerbangkan pesawat kertas itu bersama dirinya.

-Selesai-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

raja111