BaPer Generasi “Z” (Bawa Perubahan)

diadaptasi dari seminar berjudul “Strategi Menghadapi Generasi Z”
dengan pemateri Ibu Ika Herani S.Psi, M.Si

 

Generasi Z adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun 1995-2010. Generasi ini merupakan generasi peralihan dari generasi Y dengan teknologi yang semakin berkembang. Generasi Z disebut juga iGeneration, generasi net, atau generasi internet. Mereka memiliki kesamaan dengan Generasi Y, tapi mereka mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset. Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. Sejak kecil mereka sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gawai yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian serta cara berpikir.

Perkembangan teknologi yang sangat pesat membuat generasi Z sering disebut sebagai “penduduk asli dunia digital”. Hubungan yang erat antara dunia digital dan generasi Z membuat mereka menjadi generasi yang hyper komunikatif, tidak sabar, dan rawan dengan perundungan. Namun, mereka memiliki kelebihan yakni realistis, multitasking, dan mampu dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Berbicara mengenai perundungan sepertinya merupakan masalah yang tak pernah ada habisnya menjadi topik yang menghiasi lika-liku pendidikan generasi Z. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, benarkah “itu” bisa disebut perundungan? Ataukah mereka saja yang terlampau baper?

Komunikasi yang tidak terbatas, informasi yang juga tidak terbatas, membuat generasi Z kemudian suka mencoba hal baru. Namun, kurang bisa menyaring hal yang seharusnya tidak mempengaruhi kehidupannya sehari-hari. Kemudian pada proses pembelajaran membuat peserta didik mudah bosan dan mudah menyerah ketika guru menyampaikan bahwa tugas yang mereka selesaikan kurang sesuai dengan ketentuan. Bahkan tidak jarang peserta didik menganggap itu sebagai perundungan dari guru terhadap siswa. Seringnya peserta didik membuka konten-konten media sosial dengan gawai yang mereka miliki tanpa mengonfirmasi kebenaran berita tersebut juga membuat mereka mudah menyimpulkan suatu hal.

Mengatasi hal tersebut dapat disiasati dengan memanfaatkan gawai untuk hal positif. Memberi pengetahuan untuk mengonfirmasi setiap berita dan informasi yang didapat. Serta memberi pengertian untuk tidak memanfaatkan konten jenaka sebagai bahan candaan. Guru juga perlu mengusahakan mengubah mindset siswa agar tidak langsung menggunakan gawai ketika mereka mengalami kesulitan dalam belajar. Generasi Z merupakan generasi cerdas yang sangat realistis. Mereka akan mudah dibentuk, jika sebagai guru bisa menemukan metode yang tepat untuk menjelaskan secara detail mengenai kewajiban dan proses yang harus mereka lalui sebelum menghasilkan sesuatu. Agar generasi Z tidak cenderung menggunakan cara cepat dan instan. Kecerdasan dan kemampuan multitasking akan sangat bermanfaat jika mereka mampu menggabungkan dengan proses yang bertahap (bukan cara instan).

Ada sebuah pepatah mengatakan “hal yang tidak akan pernah berubah adalah perubahan”. Pepatah yang bisa diartikan bahwa setiap orang harus mau terus bergerak mengikuti perubahan, agar nantinya bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Jadi, sebagai seorang pendidik sudah sepatutnya kita berusaha menjadi pribadi yang matang dan dewasa agar bisa mengendalikan diri dalam menghadapi tantangan mendidik para peserta didik generasi Z. Berpikir dengan matang namun cepat dan tepat sebelum mengambil sikap. Dengan kerja sama yang baik antara pendidik, orang tua, dan tentunya pula generasi Z itu sendiri maka akan bisa membawa perubahan, untuk generasi Z menjadi generasi yang terbaik. Generasi Z BaPer (bawa perubahan) untuk masa depan yang lebih gemilang.

 

 

 

Hari ini kami berdiam dan tak acuh

Esok kami berjalan dan melihat

Seterusnya kami berlari menuju senja

 

Malang, 6 Januari 2020
@rainy’09

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

raja111