Istilah guru dalam pepatah Jawa berarti “digugu lan ditiru” yaitu dipercaya dan diteladani. Untuk itu, guru tidak hanya harus mampu menguasai materi pembelajaran maupun cara mengajar saja, tetapi juga memiliki kepribadian dan sikap sosial yang baik. Hal ini telah diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen dalam bentuk empat kompetensi yang wajib dimiliki guru, meliputi kompetensi profesional, pedagogik, kepribadian, dan sosial. Menyikapi hal tersebut, SMP Brawijaya Smart School mengadakan “seminar peningkatan kompetensi kepribadian dan sosial guru dalam menyikapi siswa generasi milenial”. Kegiatan ini dilaksanakan di aula SMP Brawijaya Smart School tanggal 3 Januari 2020. Seminar ini mendatangkan psikolog sekaligus dosen psikologi Universitas Brawijaya, Ika Herani, S.Psi., M.Si. Beliau memaparkan tentang strategi untuk menghadapi generasi Z.
Teori generasi yang dikemukakan oleh Mannheim menyebutkan bahwa situasi sosio-sejarah yang berbeda akan membentuk karakteristik generasi yang berbeda-beda pula. Oleh karena itu, karakteristik peserta didik yang dihadapi oleh guru berbeda-beda di tiap-tiap masanya. Pemahaman guru tentang karakteristik generasi yang dihadapi akan membantu dalam mengatasi tantangan yang muncul dalam proses pengajaran. Selain itu, dengan mengenali karakteristik peserta didik, guru dapat memberikan bimbingan yang lebih efektif dalam mengawal peserta didik memenuhi tugas perkembangannya dan mencegah terjadinya unfinished business untuk tahap perkembangan atau kebutuhan di jenjang pendidikan berikutnya.
Generasi yang dihadapi oleh guru SMP di masa ini adalah generasi Z. Generasi ini merupakan anak-anak yang lahir di rentangan tahun 1995 sampai 2010. Generasi ini terbentuk dalam kondisi sosis-sejarah yang meliputi people power, krisis moneter, terorisme, dan berkuasanya teknologi. Anak-anak yang lahir pada kondisi ini cenderung tidak bisa ditutupi dari kenyataan yang ada, memiliki kemampuan untuk memilih, biasa dilibatkan dalam mengambil keputusan, namun kurang berani mengambil resiko. Karena lahir ketika teknologi menguasai dunia, generasi ini sering disebut i-generation. Selain itu, generasi z dinilai memiliki atribut yang hampir sama dengan generasi X. Yang sedikit membedakan adalah kemampuan mereka untuk multitasking namun kurang mampu menganalisis dampaknya. Generasi Z di Eropa juga lebih mandiri dibandingkan generasi sebelumnya di usia yang sama. Akan tetapi, di Asia atribut ini belum muncul karena pola pengasuhan orang tua Asia yang cenderung membuat anaknya menjadi bergantung. Selain beberapa keunggulan tersebut, masalah yang muncul pada Generasi Z ini adalah anak-anak cepat bosan dan cenderung lebih menyukai sesuatu yang instan atau dengan proses cepat.
Berikut ini merupakan karakteristik dari Generasi Z dan bentuk bantuan yang bisa dilakukan oleh guru.
| Karakteristik | Keterangan | Bentuk Bantuan |
| Figital (Fisik dan Digital) | Memadukan sisi fisik dan digital dengan cara hidup | · Memberikan media digital untuk kegiatan yang menantang
· Membelajarkan seni mendengarkan dan merespon · Membangun hubungan yang dapat dipercaya baik secara online maupun offline. |
| Hiperkostumisasi | Menyesuaikan identitas dan melakukan kostumisasi agar dikenal dunia | · Melibatkan dalam pembuatan aturan
· Membantu keluar dari egosentris melalui diskusi yang mengekspos berbagai sudut pandang · Membantu kostumisasi cara interaksi |
| Realistis | pola pikir pragmatis dalam merencanakan dan mempersiapkan masa depan | · Memberikan pesan secara jelas dan tidak bertele-tele
· Coaching bimbingan karir · Membangun kredibilitas diri |
| Weconomist | Mengenal ekonomi berbagi | · Membelajarkan bahwa segala sesuatu perlu investasi waktu |
| FOMO (Fear of Missing Out) | Selalu mencari update terkini | · Melakukan komunikasi berkala
· Membimbing cara memecah tugas · Memberikan tugas yang variatif |
| Terpacu | siap dan giat dalam berkompetitif serta dihantui kecepatan | · Mengajarkan untuk stop and think |
| DIY (Do It Yourself) | percaya bahwa melakukan sendiri dapat mempermudah segala urusan dengan lebih cepat dan baik | · Mengajarkan cara menentukan kredibilitas
· Mengajari cara menganalisis informasi · Mengajarkan bahwa kegagal itu penting |
Sebagai penutup, pemateri menyampaikan bahwa Generasi Z pada dasarnya masih sangat membutuhkan orang lain dan cenderung kurang memiliki rasa percaya diri. Oleh karena itu, guru perlu membantu peserta didik untuk mengembangkan semangat membantu sesama (helping others). Kegiatan mengajar yang dilakukan oleh guru sebaiknya menarik serta mampu membuat peserta didik senang dan peka terhadap kondisi sekelilingnya. Dalam mengajar, perlu juga mengaja keseimbangan antara penggunaan teknologi dan aktivitas sosial.
Dari paparan oleh pemateri, dapat diketahui bahwa Generasi Z sebenarnya penuh dengan potensi tetapi juga masalah yang mengiringinya. Mendidik Generasi Z tentunya bukanlah hal yang remeh dan tidak mungkin hanya dibebankan pada guru di sekolah. Kerjasama yang baik antara keluarga, sekolah, dan masyarakat diperlukan untuk membantu peserta didik dalam memenuhi tugas perkembangannya.
Oleh: Sebti Mardiana, M.Pd.

