Perkembangan jaman melahirkan perbedaan pola pikir dan karakter yang berbeda pada setiap generasi. Setidaknya ada 5 generasi berbeda dalam rentang 100 tahun ini. Para pendidik dan tenaga pendidikan dituntut bisa mengenali, mempelajari dan menyingkapi peserta didik pada setiap generasinya agar dapat mengikuti perkembangan jaman.
Diawal tahun 2020 mengawali semester genap tahun ajaran 2019/2020 SMP BSS mengadakan Seminar Peningkatan Kompetensi Kepribadian dan Sosial Guru Dalam Menyingkapi Siswa Generasi Millenial pada tanggal 3 Januari 2020, dengan narasumber Ika Herani S.PSi, M.PSi Psikolog Jurusan Psikologi Universitas Brawijaya. Seminar ini bertujuan untuk mempelajari dan sharing mengenai Strategi Menghadapi Generasi
Generasi Z itu apa dan bagaimana ya?. Generasi Z adalah generasi yang lahir pada rentang tahun 1995 – 2010. Peserta didik yang sedang menempuh pendidikan di tingkat SMP termasuk dalam generasi ini.
- Generasi ini adalah peralihan dari Generasi Y dimana teknologi sedang berkembang. Pola pikir mereka cenderung serba ingin instan.
- Namun masih belum banyak yang dapat disimpulkan karena usia mereka saat ini masih menginjak remaja. Kehidupan mereka cenderung bergantung pada teknologi, mementingkan popularitas dari media sosial yang digunakan.
- Generasi ini adalah generasi mandiri, tetapi di Asia belum sepenuhnya mandiri berbeda dengan di Eropa
- Generasi ini juga mudah Baper( Bawa Perasaan) diakibatkan karena bullying verbal yang sedang marak di kalangan peserta didik
Tantangan dan peluang dalam menyingkapi masalah yang dihadapi peserta didik generasi Z antara lain yaitu:
- Mudah bosan, cenderung serba instan dan proses cepat.
cara mengatasinya
- menyesuaikan diri : tetap perlu displin yg positif, tanyakan dulu baru judgement
- membantu berkembang : mengajarkan value atau norma sosial
- Figital (nyata + digital sama)
cara mengatasinya
- efek tidak sabar : memanfaatkan media digital
- lebih banyak komunikasi visual : ciptakan hubungan yang bisa dipercaya
- customisasi identitas : tata muka penting belajar percakapan tulus, seni, mendengar dan merespon tidak selalu bisa menarik kembali untuk menyempurnakan
- bukan centang pilihan tapi isi : kenali sebagai pribadi, libatkan dalam membuat aturan, pertimbangkan cara berinteraksi, bantu keluar dari subjektivitas dan egosentris dengan mengespose banyak sudut pandang lewat diskusi
- Realistis
cara mengatasinya
- siapa kita : pesan jelas tidak bertele-tele
- perlu tahu hub materi yg dipelajari dengan kegunaan untuk mereka di kehidupan nyata : bangun kredibilitas, beri banyak pengalaman praktek, ajak bicara realistis, Coaching bimbingan karir
- Weconomis
cara mengatasinya
- Me to We : investasi waktu untuk kuasai sesuatu
- Instan : bantu menerapkan hasil yang nyata dari proses
- senang keahlian dimanfaatkan
- FOMO (fear of missing out)
- tidak siap bosan : tugas lebih bervariatif
- cepat merasa tidak layak : bimbing cara memecahkan tugas
- DIY (do it yourself)
- percaya pada banyak pengikut : bimbing untuk bisa problem solving, memvalidasi dan menganalisis informasi
- Terpacu
- terhantui oleh kecepatan : ajarkan untuk berhenti berfikir cepat tapi tetap mengolah informasi yang didapat
- ajari stop and think
Disamping itu semua ada kempetensi yang diharapkan untuk pendidik dan tenaga kependidikan yaitu Kepribadian dan Sosial. Mereka dituntut untuk menjadi pribadi yang matang dan dewasa serta dapat menjalin relasi dengan rekan kerja, walimurid, dan lingkungan. Kenyataannya ada masalah yang dihadapi yaitu Brain Out yang membuat emosi labil dan mempengaruhi kepribadian dan sosial serta masalah School Bullying yang terjadi dalam sistem pendidikan di sekolah.
Akhir dari seminar ini adalah penarikan kesimpulan bahwa peserta didik generasi Z masih membutuhkan orang lain, tidak percaya diri dan perlu dikembangkan helping others. Pendidik harus pandai membuat anak didik senang dan membuat melek mata serta balance antara membekali teknologi dan sosial
Tetaplah semangat untuk para pendidik generasi penerus bangsa……..
Oleh : Ika Pandu Sugiarti S.Pd
