“Body Shaming” Bukan Lelucon

Tubuh ideal, khususnya tampilan fisik (proporsi tubuh, warna kulit, kondisi kulit wajah, bentuk gigi dan pertumbuhan rambut) menjadi penilaian yang signifikan terhadap seseorang. Hadirnya sebuah standar tubuh yang dianggap ideal menjadikan seseorang dapat memberikan penilaian terhadap tubuhnya masing-masing (body image) dan terhadap orang lain. Jika tidak sesuai dengan standar ideal yang berlaku, ini dapat menimbulkan rasa malu terhadap diri sendiri dan menjadi objek body shaming. Semua manusia ingin memiliki gambaran tubuh ideal masing-masing, sehingga mereka dapat menilai citra tubuh yang dianggap ideal. Mereka menyadari bahwa satu atau beberapa bagian dari tubuh mereka ada yang tidak ideal, seperti ukuran tubuh (terlalu kurus, terlalu gemuk, dan terlalu tinggi), bentuk anggota tubuh (perut, dada, gigi, pantat), warna kulit (terlalu putih atau terlalu gelap), hingga rambut (tidak subur)

Bentuk body shaming yang dialami terbagi atas dua kategori, yakni dalam bentuk ucapan dan kombinasi antara ucapan dan tindakan secara langsung. Body shaming berbentuk ucapan bisa berupa ejekan dengan membuat istilah (kutilang darat: kurus tinggi langsing dada rata) hingga menyamakan dengan benda tertentu (seperti papan), tokoh kartun, dan/atau hewan bertubuh besar (seperti kerbau), tidak hanya diucapkan secara langsung, ucapan body shaming juga dilakukan melalui media sosial yang dituliskan dalam kolom komentar.

Body shaming yang berbentuk kombinasi antara ucapan dan tindakan, misalnya ditolak saat melamar pekerjaan, diputuskan pacar, hingga ditatap sinis. Body shaming yang dialami tidak saja membuat seseorang semakin kehilangan kepercayaan diri dan merasa tidak aman, tapi juga mereka rela melakukan apapun untuk mendapatkan tubuh ideal. Untuk menghadapi body shaming beragam cara dilakukan, yakni dengan mengubah gaya hidup, membuktikan kualitas diri, berusaha menerima kelebihan dan kekurangan diri, berpikir positif, dan menjauhi orang-orang yang sering melakukan body shaming.

Body shaming dapat dikategorikan sebagai tindakan bullying karena merupakan sebuah kekerasan verbal (ucapan) dan nonverbal (tindakan). Body shaming menimbulkan dampak buruk terhadap yang mengalaminya, kecuali bagi mereka yang sejak awal telah memiliki citra positif terhadap tubuhnya,  body shaming tidak berdampak buruk bagi kondisi psikologisnya

Oleh karena itu, sebagai masyarakat kita perlu untuk menjaga kenyamanan dengan saling menghargai kekurangan satu sama lain dan menghindari ucapan dan/atau tindakan yang mengusik kenyamanan orang-orang disekitar kita dengan tidak melakukan body shaming atau menganggap body shaming hanya sebagai candaan semata. Selain itu, kita juga perlu untuk menerima kelebihan dan

kekurangan diri masing-masing agar tidak dicemaskan (insecure) ketika mengalami body shaming dari lingkungan sekitar karena dengan demikian seseorang tidak membiarkan dirinya dikontrol oleh orang lain.

Oleh: Muchamad Arif, S.Si, M.Pd.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

raja111