Berkata Baik atau Diam

Di zaman yang serba modern seperti saat ini, kita tidak menyadari bahwa kita telah dimanjakan oleh berbagai kemajuan teknologi, terutama media sosial. Tidak hanya anak-anak, kaum muda, orang dewasa, bahkan hampir semua kalangan telah menggunakan dan menikmati akses penggunaannya. Tidak menutup kemungkinan banyak ucapan cacian, sindiran, dan bahkan ujaran kebencian terlontar antara sesama. Hal ini telah menjadi candu bagi masyarakat. Bahkan mengkritik dan mengingatkan yang baik malah dianggap sebagai sesuatu yang tabu, karena dianggap sebagai perilaku sok suci, sok moderat, dan sok-sokan seolah manusia sempurna yang tidak luput dari dosa.

Padahal perkataan dan ucapan yang baik merupakan manifestasi dari perbuatan terpuji yang selalu membawa kebaikan dan dapat meningkatkan derajat, baik di sisi Allah SWT maupun di tengah-tengah manusia. Orang yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir selalu yakin bahwa setiap ucapan dan perbuatan akan dipertanggungjawabkan kepada-Nya. Sehingga, mereka hanya akan mengucapkan yang baik saja, atau jika hal tersebut tidak dapat diwujudkan, maka lebih baik memilih untuk diam. Perkataan baik adalah perkataan yang mendatangkan ridho Allah SWT dan mengagungkan-Nya, seperti basmalah, hamdalah, tasbih, dan saling menasehati dalam kebaikan.

Selain memperhatikan perkataan, kita harus berusaha menghormati sesama, baik sesama saudara muslim maupun non-muslim. Bersikap lembut dalam perkataan dan perbuatan serta tidak menyebabkan gangguan, baik berupa perkataan maupun perbuatan, adalah cara berperilaku dan berakhlak yang mulia. Kita juga dianjurkan untuk saling memuliakan dengan senyuman yang ceria dan sambutan yang hangat. Hal ini akan melapangkan hati seseorang dan membuat kedudukannya menjadi terhormat.

Allah SWT menegaskan agar orang-orang beriman untuk berkata-kata yang baik, baik kepada sesama muslim maupun non-muslim. Allah berfirman dalam surat Al-Isra’ ayat 53:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

Artinya: Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Firman Allah SWT tadi merupakan pengingat bagi kita agar senantiasa menjaga ucapan kita. Tidak ada yang keluar dari mulut kita kecuali kebaikan. Atau minimalnya, jika kita tidak mampu mengucapkan kebaikan, maka lebih baik untuk diam. Jangan sampai ucapan yang keluar dari bibir kita malah melukai hati orang lain. Ingatlah pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kita semua:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

 Artinya: “Siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.” (Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Jangan sampai perkataan kita yang tidak baik kepada orang lain membuat kekacauan di tengah-tengah masyarakat dan merusak hubungan harmonis yang telah terjalin, tumbuh, dan terpelihara di dalamnya. Berkata apa saja boleh dan sah-sah saja, dengan catatan jangan berlebihan. Hal itu berakibat ucapan kita tidak dapat disaring. Perkataan buruk pun mengarah kepada orang lain. Akhirnya hal itu menimbulkan kegusaran, kerusakan, dan penyakit hati, baik bagi orang yang berbicara maupun mendengarnya. Tentunya, ucapan yang tidak baik merupakan akhlak yang tercela dan dapat menimbulkan kebencian di tengah-tengah manusia. (Editor: Khoirul Huda)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

raja111