Mungkin kita pernah mendengar ungkapan “lidah lebih tajam daripada pedang”. Ungkapan itu adalah ungkapan yang cukup familier dalam masyarakat Indonesia. Dengan kata-kata orang bisa melemahkan orang lain, menguatkan orang lain, melukai orang lain, dan beberapa hal lain yang mungkin bisa kita jadikan alas an mengapa ungkapan itu bisa dikatakan benar.

Ada sebuah cerita yang bisa kita jadikan pelajaran tentang betapa kuatnya kata-kata. Pada suatu malam, seorang raja bermimpi giginya tanggal semuanya. Keesokan harinya ia memanggil orang pintar untuk memaknai mimpi tersebut. Orang pintar pertama yang dipanggil berkata kepada raja, ”Paduka Raja, mimpi Paduka berarti bahwa seluruh keluarga dan kerabat dekat Paduka akan meninggal dunia.” Mendengar kabar yang buruk ini, sang raja marah. Ia  memerintahkan pada pengawalnya untuk memenjarakan orang pintar pertama tersebut.
Kemudian Raja memanggil orang kedua untuk mengartikan mimpi aneh sang raja. Orang kedua ini mengatakan pada raja, ”Wahai Paduka Raja, mimpi Paduka bertanda baik bagi Paduka. Mimpi ini berarti bahwa Paduka Raja akan dianugerahi umur panjang, bahkan lebih panjang dari keluarga dan handai taulan terdekat Paduka.” Mendengar berita baik yang disampaikan, sang Raja pun merasa senang. Kemudian Raja menyuruh pengawalnya untuk memberikan sekotak emas kepada orang pintar kedua ini. Cerita ini menunjukkan bahwa pada dasarnya kedua peramal tersebut menyampaikan hal yang sama yang dikemas dengan pilihan kata-kata yang berbeda. Dari ilustrasi ini kita bisa belajar untuk berhati-hati dalam berbicara, yaitu untuk memilih kata-kata positif dalam berbicara.

Berikut juga terdapat sebuah cerita motivasi dari seorang ibu kepada putrinya mengenai sebuah kata-kata atau ucapan. Singkat cerita ada seorang ibu yang ingin mengajari sebuah karakter kepada putrinya yang masih usia 11 tahun. Suatu hari sang ibu sedang menemani putrinya tersebut bermain di rumah. Kemudian dia mengambilkan sebungkus pasta gigi. Iamelihat putrinya dengan gembira menerimanya. Berikutnya putrinya tersebut memulai membuka tutup bukngkus pasta gigi dan mulai mencium aroma dan mencoba-coba rasanya. Kemudian sang ibu mengambil pasta gigi tersebut dan mengeluarkan semuaisinya di atas piring. Lalu sang ibu berkata, “Nak, bisakah sekarang kau mengembalikan pasta gigi yang sudah tercecer di piring ini Kembali ke dalam bungkusnya?” si putri menjawab, “Nggak mungkinlah Ma”. Setelah mendengar jawaban dari putrinya tersebut sang ibu berkata, “kata-kata yang keluar dari mulut kita sama seperti pasta gigi ini. Semua yang sudah keluar tidak bisa balik lagi. Karena itu, ada baiknya kita katakan saja hal-hal yang baik dan terpuji dan hindari perkataan yang menusukhati orang lain.”

.

Dari cerita motivasi tersebut menggambarkan bahwa kita harus hati-hati dalam bertutur kata. Sebab,hal yang sepele pun jika diungkapkan dengan kata-kata yang keliru maka akan menjadi masalah.

Ada ungkapan lagi, “diam itu emas”. Mengapa diam disebut emas. Hal itu disebabkan jika seseorang berkata-kata tidak diperkirakan dampaknya terlebih dahulu maka ucapannya akan menjadi sampah atau tidak bermanfaat, malah bisa menjadi bencana bagi dirinya ataupun bagi orang lain. Oleh karena itu, lebih baik diam. Namun demikian, bukan berarti kita tidak boleh berbicara. Jika ’diam’ bisa berbuah emas, maka ‘berbicara yang baik’ akan berbuah berlian dengan syarat pembicaraan kita bermanfaat. Kata-kata kita harus benar-benar tersaring dan tidak menyakiti orang lain.

Oleh: Khoirul Huda, S.Pd

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *