Deru ombak bagaikan senandung indah di telingaku. Pasir putih sehalus sutra menjadi pemandangan yang sangat indah. Hari ini akan menjadi hari yang sangat berharga bagiku. Tak sekali pun aku berpikir jika aku akan menemukan bidadari secantik dirimu di dunia ini. Sungguh, kau adalah pahlawan dalam hidupku. Tak bisa kubayangkan hidup ini tanpa adanya dirimu. Mungkin, aku tak akan sampai pada saat ini. Saat dimana aku bisa mengangkat kepalaku dengan penuh rasa bangga.
Aku berdiri tepat di depan sapuan ombak yang membasahi pasir putih. Dengan penuh percaya diri, aku memegang satu buket bunga mawar merah. Bunga yang penuh kenangan. Kau datang menggunakan dress se-lutut berwarna biru muda. Rambut hitammu kau sanggul memperlihatkan kulitmu yang putih bersinar diterpa sinar matahari. Sungguh, kau adalah wanita paling cantik yang pernah ku temukan di dunia ini. Aku menutup mataku mengingat kembali kejadian bertahun-tahun lalu. Awal dari segala kebahagiaan yang aku rasakan sekarang.
Burung berkicau merdu bagai senandung yang menghiasi pagi itu. Tapi, aku tak dapat merasakan keindahan itu. Duniaku gelap. Tidak ada satupun senandung yang bisa menyalakan hatiku. Hidup ini terasa sangat membosankan. Aku lelah!
Aku berjalan memasuki salah satu tempat yang selalu aku anggap sebagai neraka. Sekolah. Aku benci sekali dengan kata itu. Aku memang sangat senang belajar. Tapi, tidak di tempat mengerikan ini. Tempat ini adalah mimpi buruk bagiku.
“Hei Rudi!” Aku merasakan sebuah pukulan yang cukup keras jatuh di atas punggungku. Aku terjatuh saking kerasnya pukulan itu. Aku berusaha menatap sosok yang baru saja memukulku. “Cepat berikan uangmu dasar bodoh!” Sosok itu adalah Alex, salah satu anggota dari geng ‘Penguasa sekolah’.
“Maafkan aku Alex, aku tak memiliki uang.” Ucapku lemah. Aku berlutut di hadapannya. Memohon pengampunannya seperti orang yang bodoh. Alex menatap mataku dengan tatapan menantang. Dia mencengkram kerah bajuku dengan keras. Aku tak bisa bernapas.
“Kau sudah berani menantangku sekarang?” Dia mengepalkan tangannya di hadapanku. Aku menutup mataku rapat-rapat. Aku sudah bersiap untuk apa yang akan dia lakukan padaku. Aku menarik nafas dalam-dalam.
“Berhenti!!!” Teriak seseorang. Aku dan Alex menoleh ke arah suara itu berasal. “Lepaskan dia!!!” Orang itu adalah Gladys. Gadis paling cantik di sekolah.
“Hai cantik,” Alex melepaskan cengkramannya dan berjalan menuju gadis itu. “Sedang apa kau disini? Tempat ini bukan untuk bidadari sepertimu.” Alex menyentuh pipi Gladys dengan lembut. “Lihat ke sekelilingmu! Tempat ini hanya lorong gelap yang penuh debu. Tak seharusnya kau berada disini!” Ucap Alex dengan nada meremehkan.
Plaaakkkk!!! Gladys menampar pipi Alex dengan kencang. Alex terjatuh saking kagetnya. Gladys menatap mata Alex dengan tatapan mengancam. Tatapannya sangat menakutkan. Seperti singa betina yang siap menyantap mangsanya.
“Kalau kau berani mendekati pria ini lagi,” Gladys mencengkram kerah seragam Alex dan menunjuk ke arahku. “Akan ku kubur kau hidup-hidup!” Tatapan Gladys semakin tajam. Alex menelan ludahnya.
“Baik, baik ‘Tuan Putri’ aku akan pergi sekarang,” Alex berlari meninggalkanku bersama Gladys.
“Dasar pengecut!!!” Gladys memutar bola matanya dan menatapku dengan tatapan iba. “Kau tidak apa-apa?” Tanyanya lembut. Ia menyulurkan tangannya padaku. Aku membalas uluran tangannya. “Ayo ke kelas!” Aku berjalan ber-iringan dengannya. Aku tak bisa berhenti memikirkannya.
Teng… Teng… Teng… Bel istirahat berbunyi. Aku berjalan menuju taman sekolah. Aku berjalan dengan membawa catatan biologi. Aku membuka catatan itu perlahan sambil terus melangkahkan kakiku. Bruuukkkk!!! Tanpa sadar aku bertabrakan dengan seseorang.
“Heh! Lo punya mata ga sih?” Bentak seseorang. Aku menatap orang yang baru saja ku tabrak. Sial! Gumamku. Aku menatap mata orang itu. Tatapannya penuh dengan kobaran api kebencian.
“Maafkan aku, Alex.” Aku memohon padanya. “Tolong maafkan aku! Sekali ini saja!” Pintaku dengan sungguh-sungguh. Aku tak mau jadi ‘Mainan’ mereka lagi.
“Enaknya orang sepertimu diapain ya?” Alex mengangkat daguku dengan kasar. Ia menatap teman-temannya, meminta mereka menjawab pertanyaannya.
“Pukuli saja sampai mati!” Seru Gilang, salah seorang dari geng Alex.
“Jangan! Lempar saja dia dari lantai 4!” Balas Tono. Glek! Aku menelan ludahku. Oh, Tuhan! Apa yang akan mereka lakukan pada diriku?
“Kumohon, jangan sakiti aku! Aku sudah cukup menderita dengan hidupku sendiri,” pintaku sekali lagi. Alex menatapku semakin dalam.
“Aku punya ide yang lebih bagus. Bagaimana kalau kita cekik lalu kita potong mayatnya?” Alex mencekik leherku dengan sangat keras. Aku tak bisa bernafas. Alex tersenyum sinis. “Sampai jumpa kawan lama, semoga kau bahagia di atas sana.” Aku semakin kehilangan nafas.
Braakkk!!! Alex terjatuh. Apa yang terjadi? Gumamku. Alex meringis kesakitan memegang kakinya yang berdarah. Alex melepaskan cengkramannya. Aku memegang leherku. Sakit.
“Kau tidak apa-apa?” Seorang gadis berjalan mendekatiku. “Ayo kita pergi!” Gadis itu menarik tanganku.
“Gladys,” aku menatap wajah gadis itu.
“Iya?” Tanyanya. Ia tersenyum manis kepadaku. Sungguh cantik!
“Ke perpustakaan yuk!” Ajakku. Gadis itu menganggukkan kepalanya dan berjalan ke arah perpustakaan. Aku memilih tempat duduk di bagian pojok ruangan. Itu adalah tempat favoritku. Aku membuka catatan biologiku dan mulai membacanya.
“Ternyata kau pintar belajar ya, aku ingin sepertimu,” ucap Gladys. Aku hanya tersenyum manis.
“Mau aku ajarkan?” Tanyaku. Ia menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat. Ia mengambil catatanku dan menunjuk sebuah halaman.
“Ajarkan aku bioteknologi!” Pintanya. Aku tersenyum dan mulai mengajarinya perlahan. Aku tidak bisa fokus dengan apa yang aku ajarkan. Aku tak bisa berhenti memandangi wajahnya. Ia seperti bidadari yang turun dari syurga.
Tak terasa waktu pulang telah tiba, aku bergegas membereskan barangku dan beranjak pulang. Aku melihat sesosok gadis yang sedang berdiri di pinggir pagar sekolah. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang.
“Hai Rudi!” Sapanya lembut. “Kau pulang dengan siapa?” Tanyanya.
“Sendirian. Gladys pulang denga siapa?” Tanyaku balik
“Gladys pulang dengan kakak,” jawabnya. “Itu kakakku! Aku pulang duluan ya, hati-hati di jalan!” Dia melambaikan tangannya dan berjalan menuju seorang perempuan berusia 20-an. Aku tersenyum dan segera berjalan menuju rumah. Aku tak bisa berhenti tersenyum sepanjang perjalanan pulang. Senyumannya terus terbayang di benakku.
“Aku pulang,” Aku membuka pintu rumah perlahan.
“Dasar pria bodoh!!! Kau tak pantas menjadi seorang kepala keluarga!” Teriak ibuku dari dalam dapur.
“Kau yang bodoh! Masa jaga rumah saja tidak bisa! Dasar istri tak becus!!!” Ayahku balas berteriak. Ini bukanlah pemandangan baru bagiku. Orang tuaku memang selalu bertengkar seperti ini. Aku berlari menuju kamarku. Aku tidak ingin mendengar perdebatan tiada akhir mereka lagi.
Aku segera melompat ke atas kasurku. Ping! Hp-ku berbunyi, menandakan ada pesan masuk. Aku segera mengambil hp-ku dan segera membalasnya. Pesan itu berasal dari nomor tidak dikenal.
Hai Rudi!!! Ini Gladys.
Hai Gladys! Kau dapat nomorku dari siapa?
Hehehe…. Rahasia dong!!!
Aku tersenyum. Aku menghabiskan malam itu dengan saling bertukar pesan dengan Gladys. Malam itu seharusnya menjadi malam paling indah dalam hidupku. Aku menutup mataku perlahan. Wajahnya terbayang dengan sangat jelas. Jadi ini rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama, gumamku. Aku menatap langit-langit kamarku.
Tok… Tok… Tok… Seseorang mengetuk pintuku perlahan. Aku berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan. Aku terkejut melihat sosok ibuku berdiri di ambang pintu. Matanya sembab, seperti seseorang yang habis menangis. Ibu melangkah maju dan memelukku dengan erat. Entah sudah berapa lama ibuku tidak memelukku.
“Nak, mulai sekarang hanya ada ibu dan kamu,” Ibuku mulai ter-isak. “A…, ayahmu…., akan prgi meninggalkan kita.” Aku berdiri mematung. Apa yang baru saja ibu bilang? Aku membalas pelukan ibuku dan ikut menangis.
“Ibu….. Aku tak akan pernah meninggalkan ibu sendiri,” ucapku lemah. Malam yang tadinya indah kembali menjadi buram.
Keesokan harinya, aku berjalan menuju menuju gedung sekolah. Aku menemukan Gladys yang sedang berdiri di lorong sekolah. Ia melambaikan tangannya padaku. Aku segera berlari dan memeluknya. Aku menceritakan segala hal yang terjadi padanya. Ia menuntunku ke sebuah bangku dan memegang tanganku erat-erat.
“Kau sungguh pria yang paling tegar tang pernah aku temui,” Gladys tersenyum manis berusaha menyemangatiku.
“Gladys,” ucapku lembut. Gladys menatap mataku dengan penuh tanda tanya. “Aku tahu ini terlalu cepat, tapi….,” aku menatap matanya dalam-dalam. “Aku mencintaimu Gladys. Sangat mencintaimu.” Gladys tersenyum manis.
“Aku juga mencintaimu Rudi.” Aku mengelus pipi Gladys. Wajahnya mulai memerah. Sungguh manis.
“Rudiiiii!!!!!” Aku tersadar dari lamunanku. Dia berlari ke arahku dan memelukku dengan erat. “Aku sangat merindukanmu.” Ucapnya. Aku menatap wajahnya dengan seksama. Mata hitamnya yang besar menatap mataku dalam-dalam.
“Ehhmmm…” Aku menari nafas panjang. Aku berlutut dengan satu kaki di hadapannya sambil mengangkat buket bunga yang tadi aku bawa. “Gladys, kau adalah wanita terbaik yang pernah aku temui di dunia ini. Aku tak bisa membayangkan hidupku tanpa adanya dirimu.” Aku memegang tangannya perlahan. “Will you marry me?” Setetes air mata mulai jatuh dari mata indahnya. Ia segera memelukku dengan erat.
“Yes!!!” Ia mengangkat daguku dan menempelkan bibirnya di atas bibirku. Hari ini adalah hari yang paling indah yang pernah terjadi dalam hidupku.
Memilikimu dalam hidupku adalah anugerah terbesar yang pernah Tuhan berikan padaku. Aku sangat bersyukur memilikimu di dalam hidupku. Aku mencintaimu dengan seluruh hatiku. Kau bagai lentera yang menyinari hidupku ini. Kau sungguh seorang bidadari yang jatuh dari syurga.

