Sekitar 91 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 28 Oktober 1928, tujuh tahun sebelum Presiden pertama Republik Indonesia mengumumkan proklamasi kemerdekaan, kurang lebih 13 pemuda Indonesia mengadakan kongres pemuda pertama kali di Jakarta. Pemuda-pemuda yang tergabung dalam kongres tersebut di antaranya adalah Soegondo Jojopoespito, Muhamad Yamin, Soenario Sastrowardoyo, Wage Rudolf Soepratman, Djoko Marsaid, Amir Syarifuddin, Sarmidi Mangoensarkoro, Sie Kong Liong, J. Leimena, Amir Syarifuddin Harahap, Karto Soewirjo, Kasman Singodimejo, Mohammad Roem, , A. K. Gani dan kawan-kawan. Dari kongres pemuda tersebut menghasilkan sebuah ikrar yang kita kenal saat ini dengan “Sumpah Pemuda”. Adapun isi dari ikrar Sumpah Pemuda adalah, “Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumbah darah yang satu, tanah air Indonesia, Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia, Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia”. Mengacu pada salah satu dari ikrar sumpah pemuda, yaitu “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia”, maka semua instansi sepakat mulai saat itu, setiap tanggal 28 Oktober diperingati sebagai hari “Bulan Bahasa” dalam rangka peringatan hari Sumpah Pemuda.
SMP Brawijaya Smart School sebagai lembaga resmi yang bernaung di bawah instansi perguruan tinggi negeri Universitas Brawijaya, tidak pernah luput untuk ikut berpartisipasi dalam memeriahkan peringatan Bulan Bahasa disetiap tahunnya. Pada tahun ini, SMP BSS kembali memeriahkan peringatan Bulan Bahasa, dengan mengusung tema, “Cerdas Berbahas, Santun Berperi Laku, Tunas Berintegritas”. Rupanya tema ini sangat tepat untuk mewakili “gaya berbahasa” dan sikap remaja saat ini yang tidak jauh dari media sosial.
Melalui media sosial, anak-anak meniru model berpakaian, melalui media sosial anak-anak meniru gaya pergaulan, melalui media sosial anak-anak mengenal dunia yang lebih luas, dan melalui media sosial pula anak-anak mendapat gaya bahasa baru untuk berkomunikasi. Sayangnya tidak semua anak bisa memilih dan memilah yang baik dan tidak untuk ditiru. Gaya bahasa anak Indonesia era milenial atau masa kini, sudah mengalami perubahan bahasa yang sangat pesat dibandingkan era sebelumnya. Banyak bahasa baru yang mereka ciptakan untuk berkomunikasi sehari-hari, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Tidak jarang kata-kata kotor juga menyertai percakapan mereka dalam bergaul yang diungkapkan secara lisan maupun yang tertulis dalam media sosial baik status, story, comment, caption dan lain sebagainya. Akibatnya banyak menimbulkan ambiguitas dan multitafsir oleh pembacanya, sehingga menjadikannya berita hoax atau bahkan bisa menimbulkan fitnah. Mirisnya hal tersebut justru menjadi budaya dan dianggap suatu hal yang sudah biasa dan wajar di kalangan anak muda masa kini.
“Cerdas Berbahasa”, bagian tema dari peringatan bulan bahasa SMP BSS kali ini, bertujuan untuk mengembalikan bahasa ibu kepada siswa siswi SMP BSS agar mereka mulai terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam komunikasi pergaulan dan bermedia sosial. Cerdas dalam hal ini berarti melalui proses berpikir sebelum mengungkapkan melalui lisan ataupun tulisan. Pikiran yang cerdas berasal dari kebiasaan membaca untuk memperoleh informasi yang benar, tidak hanya sekadar mendengar lalu langsung mengungkapkan. Maka dengan tema ini, diharapkan siswa-siswi SMP BSS terbiasa membaca untuk mendapatkan informasi yang benar, berpikir untuk menyaring apakah informasi yang ia dapatkan pantas dan perlu untuk dipublikasikan, dan jika sudah yakin baru berpendapat dengan lisan atau tulisan menggunakan bahasa yang baik dan sopan. Bahasa yang baik bukan berarti harus menggunakan bahasa Indonesia yang baku dan formal, bahasa yang sederhana atau bahasa sehari-haripun bisa dipakai asalkan tidak mengandung SARA, tidak menyinggung suatu golongan, tidak menggunakan kata-kata kotor dan sarkastik, serta bisa dipertanggungjawabkan. Ada pepatah dari Jawa yang berbunyi “Ajining diri ana ing lathi”, yang artinya berharganya diri seseorang berasal ada pada ucapannya. Maka bahasa yang digunakan seseorang dalam berucap dapat mencermikan baik-buruknya kepribadian.
“Santun Berperilaku”, lanjutan dari “Cerdas Berbahasa” dalam tema bulan bahasa ini memiliki makna, jika seoseorang sudah pandai dalam menggunakan bahasa secara cerdas, maka tingkah laku yang santunpun akan otomatis menyertainya. Indonesia terkenal dengan penduduknya yang ramah tamah, namun keramahan ini semakin pudar seiring perkembangan zaman yang membuat para pemuda-pemudanya banyak terkontaminasi budaya asing yang digandrungi melalui fashion, musik, koreo dance, dan lain sebagainya. Peringatan bulan bahasa ini, sekaligus juga mengingatkan kepada para generasi muda khususnya di SMP BSS untuk tetap menjaga sopan santun dalam berperilaku agar tetap menjadi Negara dengan kategori keramahtamahannya karena perilaku yang santun merupakan karakter penting yang harus dimiliki setiap orang untuk berkehidupan sosial dimanapun berada.
Generasi yang memiliki nilai kejujuran dan karakter yang kuat diharapkan dapat dimiliki oleh siswa-siswi SMP BSS. Dimulai dari merubah kebiasaan buruk dalam berbahasa menjadi cerdas berbahasa dan merubah tingkah laku yang kurang baik menjadi santun dalam berperilaku, diharapkan siswa SMP BSS menjadi tunas yang berintegritas.
Senin, 28 Oktober 2019 seluruh warga SMP BSS turut memperingati dan memeriahkan Gebyar Bulan Bahasa dan Sastra. Banyak acara yang disuguhkan dalam peringatan tersebut. Sekilas tentang acara gebyar bulan bahasa SMP BSS tahun 2019 yaitu, ada lomba musikalisasi puisi yang diikuti oleh perwakilan siswa kels VII, lomba mading dua dimensi untuk siswa kelas VIII, dan lomba debat yang diikuti oleh perwakilan siswa-siswi kelas IX. Masing-masing lomba dimulai serentak pada pukul 07.30 sampai dengan pukul 09.00 WIB. Untuk siswa siswi yang tidak mengikuti lomba mewakili kelasnya, mereka semua berkumpul di aula untuk bersama-sama menonton film “The Battle of Surabaya”. Setelah film dan lomba selesai, seperti kebiasaan rutin sehari-hari di sekolah, dilanjutkan istirahat, sholat dan makan. Pukul 10.30 WIB selesai istirahat dan sholat semua siswa kembali berkumpul di aula untuk bersama-sama menyaksikan pentas seni dari teman-teman ekstrakurikuler SMP BSS di antaranya paduan suara, band, tari tradisional, di sela-sela pentas seni para siswa juga dihibur dengan permainan-permainan menarik untuk memperebutkan doorprize. Di akhir acara ditutup dengan pengumuman pemenang masing-masing lomba. Musikalisasi puisi, dimenangkan oleh kelas VII A, mading dua dimensi dimenangkan oleh kelas VIII E, dan lomba debat dimenangkan oleh kelas IX C. Dengan diumumkannya juara untuk masing-masing lomba, ditutuplah acara kegiatan Gebyar Bulan Bahasa dan Sastra SMP BSS 2019. Alhamdulillah seluruh acara berjalan dengan lancar, dan semoga tahun depan SMP BSS kembali bisa memeriahkan peringatan bulan Bahasa dan Sastra dengan lebih baik lagi.
Oleh: Dieseta Silvi Palupi
