Yang Tersisih…

Bagaimana seandainya saya lulus sekolah tapi saya masih sendiri?

Bagaimana seandainya saya lulus kuliah tapi saya tetap sendiri?

Bagaimana seandainya saya sudah bekerja tapi saya terus sendiri?

Apa iya semua hal yang baik sudah saya pelajari?

Apa iya sebuah kepedulian sudah saya dapati?

Ah, begitu aneh ku rasa. Ketika senja ini begitu jingga tapi saya yang masih mentah ini tak tau maknanya. Namaku Kaisar. Ibuku bilang, walau kelak aku tak bisa jadi raja tapi aku harus bisa merajai diriku sendiri. Tak terpengaruh kata orang. Tak terlarut ingar-bingar sekitar.

Ibuku bilang Kaisar itu harus kokoh seperti bumi, mengayomi seperti air, menyejukkan seperti angin, kuat seperti samudra, indah seperti rembulan, perkasa seperti bagaskara, dan lembut seperti cahaya bintang.

Di usiaku ini aku masih mencoba mencerna nasihat ibu. Aku berdiam di tepi sungai saat senja memerah. Aku mencoba menikmati aroma air yang tak terjemahkan. Ingin ku tanya pada ibu, kenapa banyak orang mencibirku. Aku tak hendak lagi menangis, bahkan untuk mengerang pun sudah tak mampu. Ibu.. bisakah aku yang seorang diri ini melawan mereka?

Di sekolah, guruku mengajarkan untuk menghargai sesama. Tapi di sini aku tak pernah terlihat. Mereka bilang Kaisar itu harusnya tinggi dan tegap tak serupa kurcaci. Jika aku sudah lebih ranum nanti, apakah aku akan mendapat pelajaran yang lain?

Di rumah, ibuku punya banyak tanaman. Ibu bilang, tanaman sekalipun berhak dilindungi, harus dirawat, dan dihargai. Aku menyusuri sungai ini lagi, sambil membayangkan tanaman ibu. Tapi di sini tak ada satupun yang serupa tanaman ibu. Lalu dengan siapa aku harus berteman, ibu? Apakah aku yang seorang diri ini harus memulainya?

Ibu bilang, ibu ingin aku jadi orang yang berguna. Bukan hanya pekerja yang pergi pagi pulang malam. Ibu bilang, aku harus melihat lebih dekat ke sekitarku.

Aku sekali lagi masih mengamati sungai ini. Ibu, bahkan bebatuan pun tak lagi basah oleh hujan. Tak ku dapati seorangpun yang peduli. Ibu, tak ada yang sebaik ibu di sini. Aku sendiri, Bu. Aku sendiri menahan semua cacian yang mereka anggap candaan. Aku sendiri dalam sebuah ruang bisu yang membawa luka, yang menyimpan cerita, yang menyimpan kepedihan.

Tidakkah bisa aku diselamatkan?

Oleh: Novita Ratna Sari, S.Pd.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

raja111