
MALANG KOTA – Apa jadinya bila plastik bekas bungkus saus dirangkai menjadi gaun? Lalu, seperti apa rasa dawet yang dibuat dari daging lele?
Inovasi-inovasi tak biasa itu tersaji pada hari ke-8 penjurian Green School Festival (GSF) kemarin (15/11). Penjurian itu dilakukan serentak di 48 SD hingga SMP se-Kota Malang.
Seperti di SMP Brawijaya Smart School (BSS) kemarin. Agenda penjurian di sekolah ini diwarnai dengan gelaran fashion show dari para siswa.
Tema busana yang mereka bawakan pun disesuaikan dengan tema GSF. Yakni, terkait dengan isu lingkungan. Ada siswa yang tampil dengan balutan gaun berbahan kertas bekas, ada pula yang berbahan plastik bekas saus sambal.
Di tempat lain, SDN Dinoyo 1 memamerkan kreasi makanan berbahan lele di hadapan tim juri GSF. Total, ada 32 jenis menu makanan dan minuman yang dibuat dari bahan ikan air tawar tersebut. Salah satunya adalah dawet.
Cendol pada dawet itu menggunakan daging lele sebagai salah satu bahannya. Dalam prosesnya, daging lele yang sudah dihaluskan itu dicampur dengan bahan lain seperti sagu.
Penggunaan pandan untuk membuat cendol mampu menghilangkan bau amis yang biasa tercium dari daging lele. ”Dawet menjadi terobosan agar siswa-siswi tidak jenuh dengan makanan berbahan lele saja,” ujar dia. Selain dawet, lele juga diolah menjadi sosis, bakso, siomay, nugget, hingga abon.
Kepala SDN Dinoyo 1 Drs Totok Wargo Santoso MM menyatakan, lele yang diolah menjadi makanan dan minuman itu berasal dari program instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
”Air bekas wudu dialirkan ke IPAL yang menggunakan media drum. Sebelumnya, air itu disaring dengan filter seperti yang biasa digunakan di akuarium,” jelas dia.
Sementara itu, di SMPN 3 Malang, ada sejumlah produk hasil penelitian yang ditunjukkan para siswa. Mulai dari semprotan pengusir nyamuk berbahan kemangi hingga penggunaan daun binahong menjadi hand sanitizer (pembersih tangan).
Pewarta: NR3, NR6 & NR8
Penyunting: Indra Mufarendra
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Falahi Mubarok
Sumber: Radar Malang, 16 November 2017

