Money Oriented: Karakter Dasar atau Bentukan Lingkungan?

Money oriented people. Secara harfiah istilah tersebut berarti orang-orang yang berorientasi pada uang. Pada kenyatannya, setiap manusia pasti memerlukan uang untuk mencukupi segala kebutuhannya. Akan tetapi, apakah hal itu lantas membuat kita berpikir bahwa segala sesuatu dihitung dan diorientasikan pada uang?

Perhatikan contoh-contoh kontekstual berikut:

Dialog-dialog 1:

  • “Aku lulus kuliah nih, berati harus cari kerja, cari uang untuk modal nikah”
  • “Sepertinya keuangan keluarga mulai minus, aku harus mencari kerja lain sehingga bisa memenuhi”
  • “Rekreasi memang menghabiskan uang, tapi kebahagiaan keluargaku tidak terbayar dengan apapun”
  • “Diundang pelatihan nih, ikut deh untuk nambah ilmu, syukur-syukur kalau dapat uang saku, bisa buat main”

Mari kita bandingkan dengan contoh berikut!

Dialog-dialog 2:

  • “Ah, aku mau menolong Ibu itu, siapa tahu aku diberi uang,”
  • “Wah, Pak guru minta tolong untuk dibelikan makan siang, pasti nanti aku diberi uang”
  • “Hmm, aku masuk dalam panitia Agustusan di kampung, pasti nanti dapat honor”
  • “Wih aku diundang pelatihan, hmm pasti nanti dapat uang transport”
  • “Wah, aku harus cepat mengumpulkan laporanku, biar honorku tidak dipotong”

Dari contoh pertama dan kedua, kira-kira dialog mana yang menunjukkan seseorang yang money oriented?

Seperti yang dibahas di awal,  bahwa semua orang memang membutuhkan uang untuk hidup. Tapi, bagaimana kita menempatkan posisi uang dalam menentukan kehidupan kita, untuk apa dan bagaimana cara kita mendapatkan itulah yang menentukan pola pikir kita, money oriented or not.

Dari kedua contoh di atas, kita pasti bisa menyimpulkan dialog mana yang menunjukkan seseorang yang money oriented. Ya, dialog kedua. Dari mana simpulan tersebut? Dengan melihat dialog-dialog nomor dua, dari uangkapan “pasti nanti dapat uang” “nanti gaji dipotong”, itu artinya apa yang kita lakukan, nantinya bermuara pada uang. Tidak ada lagi ketulusan untuk menolong, tidak ada lagi keikhlasan untuk mengerjakan tugas karena semuanya dilakukan untuk dan karena uang.

Lantas, bagaimana pemikiran tersebut bisa terbentuk?

Coba kita tanyakan pada diri atau melihat pada lingkungan kehidupan kita, seberapa banyak  atau seberapa sering kita jumpai bentuk atau contoh-contoh seperti pada dialog 2. Pasti tidak sedikit. Tidak hanya pada dunia bisnis yang memang tujuan utamanya pada profit, tetapi juga pada urusan-urusan keagamaan, sosial, bahkan pendidikan. Rasa ikhlas, tulus, kedisiplinan, dan tanggung jawab perlahan luntur tergerus keinginan tinggi seseorang untuk mendapatkan uang dengan cara apapun. Hal ini bisa jadi  karena mahalnya kebutuhan hidup zaman sekarang, sehingga uang yang dibutuhkan pun jauh lebih banyak. Bisa dikatakan hal tersebut salah satu faktor bagaimana money  oriented terbentuk, yaitu biaya hidup yang sangat tinggi.

Bukan hanya itu, pernahkah kita mendapati atau mengetahui orang tua yang berkata pada anaknya “Nak, mandi yuk, nanti ibu beri uang”, “Sayang, ngaji yuk, nanti ibu beri uang saku lebih deh,” “Mas, belikan bumbu di warung, nanti kembaliannya buat Mas,”. Tidak asing kan? Sadarkah kita bahwa kalimat-kalimat tersebut secara tidak langsung menggiring kita pada uang. Seorang anak mau mandi, mau mengaji, mau menolong ibunya hanya untuk mendapatkan imbalan yang diiming-imingkan sebelumnya. Di manakah letak pembetukan kesadaran disiplin mandi, disiplin mencari ilmu, dan letak kesadaran untuk menolong? Lantas, jika hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan, apakah salah jika seorang anak akan tumbuh menjadi sosok yang money oriented? Yah, ini juga bisa menjadi faktor kedua bagaiamana money oriented terbentuk.

Hal lain yang juga tidak jarang kita temui adalah “Datang terlambat akan mendapatkan potongan gaji”, “yang mengumpulkan laporan lewat dari pukul 18.00 akan mendapatkan potongan HR”, “Yang ikut mengunjungi Bu Desi ke rumah sakit nanti akan mendapat uang transport”.  Pertanyaannya, di manakah letak penanaman karakter disiplin,  tanggung jawab dan peduli, apabila kewajiban datang atau mengumpulkan  pekerjaan tepat waktu ataupun melakukan kunjungan besukan yang merupakan kegiatan sosial semua dititikakhirkan pada uang? Untuk dunia bisnis yang memang orientasi kerja pada profit mungkin sering diberlakukan aturan potong gaji, tapi apa untungnya juga untuk perusahan yang memotong gaji karyawannya terus-menerus karena terlambat? Potongan tersebut tidak terhitung menambah profit mereka, tetapi justru keterlambatan para karyawan yang jauh merugikan pada produksi atau kecepatan target kerja. Bahwasanya  yang lebih penting dari memotong gaji adalah menumbuhkan kesadaran disiplin dan tanggung jawab kerja. Apalagi jika hal-hal semacam itu muncul di dunia pendidikan, keagamaan atau sosial yang notabene pekerjaan yang dilakukan tidak hanya bertitik  pusat pada uang, tapi pengabdian dan ibadah. Di manakah letak kesadaran disiplin diri, tanggung jawab dan sosial jika semua akhirnya bermuara pada uang? Lantas, siapa yang bertanggung jawab pada terbentuknya karakter seperti ini?

Dari penjabaran dan contoh-contoh di atas, mari kita secara pribadi kita sendiri, mencoba menjawab pertanyaan pada judul di atas. Money oriented people, karakter dasar ataukah bentukan lingkungan? Jawaban ada pada diri kita masing-masing.

Oleh karena itu, marilah kita berupaya untuk tidak serta merta atau selalu menempatkan posisi uang/materi di atas segalanya. Bahwasanya ketenangan hati kita, kebahagiaan kita, senyum orang tua, suami/istri, anak, saudara dan teman kita bukan semata karena uang. Apalah arti uang jika perhatian, kasih sayang, dan pelukan tidak pernah kita berikan pada mereka? Mari kita renungkan!

Fadhilah Hardini WA, S.Pd

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *