“Mak, jam piro iki?”

“Jam setengah limo Jon,”

“Lho lak gek ndang,” batin Jono sembari melipat selimut lusuhnya. Bergegas ia lari menuju kamar mandi yang letaknya tak tersambung dengan rumah. Tanpa pikir panjang, dia geser papan bambu penutup kamar mandi.

“Heiii!!!” Teriak suara laki-laki dari dalam.

“Oh, Pak ngapunten Pak.” Jono terkejut sambil menggeser kembali pintu kamar mandinya.

“Lha iyo enek wong adus kok nylonong ae”.

Jono menertawai kekonyolonnya. Ia ambil dingklik dan meletakkannya persis di samping pintu belakang rumah sambil menunggu sang Bapak yang masih mandi.

“Piye lek ku telat iki, melbune jam 7 e”. Jono terus-menerus menggerutu sambil sesekali mendongakkan wajah melihat pintu kamar mandi.

“Pak, sampun a?”

“Yo sek ta Jon, wong aku tas melbu.” Sahut Bapaknya geram. 

Jono gusar. Ia bangkit dari duduknya, mondar-mandir sambil melihat ke arah kamar mandi gelapnya.

“Jon, nimbo o, ki banyune entek!” Teriak Bapak lagi.

Jono mengambil timba dan bergegas mengambil air dari sumur tua yang berada persis di samping kamar mandi. Dituangkannya air hasil timba ke sebuah lubang yang langsung menuju bak mandi. Sampai timba ke-5, Bapaknya pun selesai. Jono lantas bergegas masuk kamar mandi. Air masih belum separuh di baknya. Namun Jono tak mau lagi menungggu. Mandi kilat, cepat ia lakukan. Wudhu tak lupa.

…………………

“Mak, aku ra sarapan yo, tak budal wes” Sembari menggantungkan handuk di daun pintu kamar.

“Jon, ki sek jam limo seprapat, te nyang ndi we?” Omel Emak yang sedari pagi tak lepas dari pawon sibuk menyiapkan sarapan dan bontot  untuk Bapaknya yang kerja sebagai buruh tani. “Andukmu pepe en ndek njobo!” Perintah Emak lagi, dengan nada tinggi kali ini.

“Iyo Mak, aku kesusu, saiki wayahe bu guru kunjungan, ki ngkok ning omahe Santi, ndek Mblambangan.”

“Waduh, we ra ngomong. Eruh ngunu tak bedolno puhung we, paringno nang bu guru.” Emak sedikit panik karena biasanya ada sedikit ucapan terima kasih untuk bu guru yang rela jauh-jauh berkunjung.

“Jon, entenono diluk ya, tak bedolno puhung diluk ndek etan omah.”

“Waduh Mak, aku selak ra nutut”. Rengek Jono sembari memasukkan hem putih berlokasikan SMPN Satu Atap ke dalam celana birunya. Rambut ia sisir rapi. Matanya melirik cepat ke arah tas coklat dengan sedikit lobang bagian ujung bawahnya yang tergeletak di samping lemari.

“Waduh durung madahi buku” Jono terus menggerutu. Ia lantas memasukkan hampir semua buku yang ada di meja. “Bah wes timbang enek sing kari”

“Mak, mari ngarit wingi topine saman dekek ndi?” Teriak Jono lagi

“Opo se Jon? Makmu sek mbedol puhung,” jawab Bapak santai “golek ono ndek kono lak ketemu a Jon!” sambung Bapak yang sedang menikmati wedang kopi sambil mendengarkan pengajian pagi melalui radio.

“Jon, ki puhung e tak wadahi kresek, mengko cangkingen yo, we sarapan o sek diluk ae!”

“Ra nutut Mak, bu guru ngajak janjian jam 7, ki wes meh jam 6. Aku mlaku e Mak.” Terang Jono sambil minum teh hangat yang sudah disiapkan Emak.

“We ra sepedaan ta?”

“Rantene pedot Pak” jawab Jono, sembari mencium tangan Bapak dan dilanjut Emaknya.

“Assalamualaikum!!”

Berseragam putih biru lengkap, rapi. Memanggul berat tas punggung yang berisi hampir semua mata pelajaran. Menjinjing tas kresek berisikan singkong hasil kebun rumahnya untuk bu guru. Berjalan kurang lebih 5 kilo, hanya untuk berjumpa dengan ilmu yang sudah ia nanti.

Benar sekali, pandemi ini sudah berjalan 5 bulan. Tak ada kegiatan sekolah. Daring atau online ,yang selalu digembar-gemborkan, tiada arti di sini. Jaringannya menguap di pelataran, tersendat di rerimbunan kebun yang membentang di sepanjang jalan menuju pelosok desa.

Bila sekolah normal, Jono berangkat sekolah naik sepedah kayuhnya. 6 kilo meter jarak dari rumah menuju SMPN Satu Atap. Saat kondisi tak lagi normal, ia hanya dapat bertemu dengan guru dan segudang ilmunya satu minggu sekali di rumah salah satu teman, yang jaraknya masih 5 kilo dari rumahnya. Sepeda yang biasa ia kayuh, rantainya putus tergerus korosi.

“Mugo-mugo gak telat.” Batin Jono dalam hati, sambil terus melangkahkan semangatnya.

“Le, bareng a?” Pak Warno, tetangga Jono menawarkan tumpangan. Namun, Jono menolak karena sudah 2 anak Pak Warno bonceng di motor astreanya.

“Mboten pun pak, maturnuwun.” Sahut Jono sambil tersenyum.

Langkahnya ia lanjutkan. Jalanan makadam, hamparan hijau-kuning padi di sawah yang ia lewati menjadi teman perjalannya. Cuit burung emprit, celoteh katak sungai seolah menyemangati Jono yang sumringah hatinya, tak sabar bertemu kawan, guru, dan ilmu yang sudah tersimpan rapi dalam tas bu guru.

Beberapa kendaraan roda dua lalu lalang di sepanjang jalan, namun sayangnya semua sudah berboncengan. Jono pun tak ada kesempatan untuk nebeng. “Ah, tak masalah” batin Jono sambil mengusap keringat yang mulai bercucuran di lehernya.

Agenda kunjungan guru ini adalah program sekolah untuk tetap menyalurkan materi pada siswa. Walaupun hanya satu minggu sekali, setidaknya siswa tak dibiarkan diam tanpa aliran ilmu sama sekali. Tugas diberikan untuk satu minggu dan dibahas saat jumpa kembali. Tak ada pembelajaran daring karena ponsel tak dimiliki semua siswa. Jaringanpun putus dibentangan jarak yang cukup jauh, dengan kata lain pedalaman. Begitulah, sampai entah kapan berakhirnya pandemi ini.

Mentari merangkak naik. Menambah kepanikan Jono. “Waduh, wes awan piye lek telat.” Langkahnya ia percepat. Cukup lega ia sudah memasuki kampung Mblambangan, setidaknya 500 meter lagi sampai di rumah Santi.

Jono yang baru tahun ini masuk SMP, tak ingin tertinggal, barang sedikitpun. Dengan mengantongi izin melanjutkan sekolah SMP dari Bapaknya yang ia peroleh dengan sangat alot, menjadi motivasi dan semangatnya. “Wes to le, ewangono Makmu ngaritne sapine Pak Bas wae lo!” Kalimat yang selalu Bapaknya sampaikan di penghujung kelas 6-nya kala itu. Jono bukannya membantah perintah orang tua, namun ia ingin mengenyam pendidikan, walau dengan perjuangan dan perjalanan yang sangat sulit.

Rumah warna biru kuning sudah tampak dari ujung. “Kok sek sepi yo?” Batin Jono penuh tanda tanya, biasanya sudah tampak sepeda teman-temannya di depan rumah Santi. “Ah, paling aku kisuk en, syukurlah.” Hibur Jono yang sumringah bukan main.

“Assalamualaikum” Sapa Jono sambil mengetuk pintu rumah Santi yang masih tertutup, cukup aneh.

“Waalaikumsalam,” suara Santi terdengar bangun tidur. Menambah keanehan. Namun Jono tetap optimis. Ia tetap menanti pintu terbuka dengan hati penuh bara semangat.

Santi membukakan pintu. Dipandanginya Jono dari atas sampai bawah dengan heran.

“Loh Jon tanggal abang, prei jare bu guru.” Ucapnya datar tanpa ekspresi.

“Srakk!!” Kresek bungkusan singkong yang Jono pegang jatuh. Meruntuhkan semangat yang telah dijaga baranya di sepanjang perjalanan.

“Melbuo sek Jon!” Sahut Emak Santi dari dalam. Jono masih tetap berdiri di depan pintu dengan pikiran yang kacau, mulut melongok dan mata nanar tanpa binar.

“Oalah….”

Oleh: Fadhilah Hardini Wahyuni Asih, S.Pd.

Semoga pandemi segera berakhir,.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *